About Us

Badega Gunung Parang

Berawal dari sebuah obrolan di warung kopi pertengahan Agustus 2013, dimana saat beberapa warga diantaranya Mang Yunus, Abah Umin, dan Kang Wawan sedang bercerita tidak jelas awal dan akhirnya tentang bagaimana memperoleh kehidupan yang lebih baik di kampung mereka, mengingat usia sudah tidak muda lagi.

Mengingat selama ini Gunung Parang yang sudah dikenal dan banyak berdatangan tamu-tamu pemanjat ataupun hanya sekedar berwisata dari beragam kota dan negara sejak tahun 1980, namun sejauh ini tidak ada kontribusi untuk pengembangan kampung dan warga mereka.

Bahkan beberapa batu yang tersebar di kaki gunung Parang sudah dieksploitasi habis-habisan oleh penambang liar dan hanya meninggalkan kerusakan lingkungan.

Beragam ide pun dilempar, mulai membuat usaha peternakan ayam, kambing, menjual tape ketan, sampai ada yang mengusulkan membuat wisata, namun bentuk wisatapun masih belum jelas.
Dan ide-ide liar pun terus berkembang tanpa arah dan tujuan.

Abah Umin mengusulkan membuat jalan setapak ke Tower 3 Gunung Parang, dan Mang Yunus yang lebih konyol lagi, mengecat bulu monyet lutung (Trachypithecus) dari awalnya hitam, menjadi berwarna putih, dan kemudian di lepas di hutan, yang selanjutnya dibuatlah legenda si lutung putih di kaki Gunung Parang.
Kang Wawan yang hanya diam seribu bahasa membayangkan obrolan yang tidak jelas arahnya, maklum saja beliau baru saja kalah dalam acara pemilihan lurah desa Sukamulya tahun 2013. 

Dari sekedar obrolan ketiga orang tersebut, akhirnya melebar menjadi obrolan panas ke seluruh warga di kampung Cihuni. 

Rapat demi rapat, obrolan demi obrolan, akhirnya semua berakumulasi menjadi sebuah ide gila, yaitu membuat kampung wisata sekaligus mengeksploitasi Gunung Parang dengan cara lain dan tidak merusak lingkungan.


Namun dimana? Bentuknya bagaimana? Uangnya darimana?


Nah! inilah sebuah kegilaannya berawal.

Setelah ide terakumulasi, kini kembali ke persoalan dasar, Uang !

Untuk makan sehari-hari saja mereka kembang kempis, bagaimana membangun proyek wisata ini. 

Satu rupiahpun mereka tidak punya untuk membangun sebuah lokasi wisata, kembali otak diputar untuk mencari ide lagi.

Akhirnya disepakati untuk bergotong royong soal dana pembangunan, tidak perlu uang, yang penting ada bahan dan material bangunan, tenaga, dan semangat !

Mulailah semua warga kampung Cihuni bergerak mencari lokasi yang diinginkan, dan diputuskan lokasi awal di atas kolam ikan yang sudah tidak terpakai milik Kang Wawan, dan tanah Kang Jana, serta Abah Umin.
Sedangkan suplai listrik dan kantor dapat hibah dari rumah Mang Yunus yang sudah tidak terpakai.

Bersama-sama mereka bergotong royong membuat sebuah Bale Semah (Balai Tamu) yang terbuat dari bambu, dan semua bahan baku dan tenaga semua berasal dari warga kampung.
Tidak semua warga kampung mendukung rencana ini, ada pula yang mengkritiknya, bahkan mengejek mereka habis-habisan.

Namun mereka yang tergabung dalam gerakan ini sudah tidak perduli, dan mereka terus bergerak dan membangun lokasi setahap demi setahap.

Dalam tempo satu bulan, sebuah Bale Semah yang berada di atas kolam ikan sudah terbentuk, dan menginjak bulan kedua, lokasi berikutnya di bangun Bale Ngaso (Bale Tidur). 
Penataan demi penataan berjalan terus menerus tanpa henti dari hasil gotong royong warga yang peduli dan ikhlas menyumbangkan bahan, tenaga, dan uang untuk membangun tempat wisata ini.

Pada akhirnya aktifitas gotong royong ini menarik perhatian sejumlah orang yang tidak sengaja berkunjung ke kampung Cihuni.

Dan sungguh di luar dugaan, beberapa dari mereka akhirnya bersedia membantu tanpa dibayar satu rupiah pun ketika mendengar cerita dan kekonyolan warga yang bahu membahu membangun kampungnya demi menjadikannya sebuah tempat wisata dan membuat sebuah kehidupan baru.

Beberapa dari mereka akhirnya membantu mematangkan semua konsep demi konsep, membuat rencana tata ruang, dan menyusun jaringan kerja, bahkan membangun beragam perangkat lunak dan media sosial secara gratis untuk warga kampung.

Selain itu, merekapun bahu membahu bersama warga membangun semua fasilitas yang ada di lokasi dan turut memberikan pelatihan untuk pemuda dan warga kampung.
Semua pekerjaan mereka dilandasi dengan semangat keikhlasan saling membantu tanpa meminta bayaran satu rupiah pun.


Sebuah jalan keluar dari Tuhan yang begitu indah untuk warga kampung Cihuni dan Gunung Parang untuk kehidupan yang lebih baik.



Setelah semua pembangunan tahap awal selesai, warga pun sepakat memberikan nama sederhana kepada lokasi wisata yang baru ini, Kampung Wisata dan Petualangan - Kampung Cihuni.

Pada akhirnya secara tidak sengaja, warga mengirimkan undangan ke Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH, pada tanggal 11 Desember 2013 untuk meresmikan kampung wisata Cihuni, namun pada akhirnya ditasbihkan oleh Bupati menjadi nama BADEGA GUNUNG PARANG pada tanggal 17 Desember 2013.

Pemberian nama BADEGA GUNUNG PARANG sendiri bukan tanpa dasar, Bupati Purwakarta memberikan nama ini untuk memberikan semangat kepada warga kampung Cihuni di kediamannya pribadi, yang artinya Penjaga Gunung Parang. 
Menjaga segala kelangsung dan lingkungan hidup di sekitar Gunung Parang.
Sebuah nama yang memiliki makna dan arti yang mendalam serta bagi seluruh warga kampung Cihuni.


Disinilah awal perjalanan BADEGA GUNUNG PARANG dimulai, dan ceritapun terus bergulir dari satu cerita ke cerita lainnya sampai hari ini.


Persoalan demi persoalan mulai bermunculan, kritikan dan hujatan semakin deras mengalir, emosi dan perasaan mulai bermain, keluar masuk warga yang ikut dalam gerakan ini sudah bukan hal aneh, otakpun diperas, semua berporos pada satu hal yaitu BADEGA GUNUNG PARANG.

Satu persatu persoalan terurai, satu persatu masalah terselesaikan, dan bahkan alam Gunung Parang pun turut memainkan perannya dalam menyeleksi setiap langkah dan gerakan para warga kampung.

Komunitas warga kampung ini bagai sebuah orkestra besar yang memainkan komposisi musik rumit namun enak didengar.

Sejauh ini, pengembangan dan pembangunan lokasi terus berjalan tanpa mengenal lelah.
Dari lokasi kurang lebih Empat Puluh hektar milik warga kampung yang direncanakan untuk mendukung wisata Badega Gunung Parang, baru terbentuk sekitar 2 hektar,


Tidak dapat dipungkiri, gerakan warga kampung Cihuni di Badega Gunung Parang membawa pengaruh positif beberapa warga kampung lainnya membentuk sebuah komunitas warga untuk membangun lokasi wisata di sekitar lingkar Gunung Parang, sebutlah misalnya kampung Cikandang, di Desa Sukamulya dan kampung Cileutik, di Desa Pasanggrahan.


Awalnya, pihak Badega Gunung Parang turut membidani kelahiran komunitas-komunitas warga ini, namun pada akhirnya mereka bergerak dan menentukan arahnya sendiri.

Hanya satu hal yang pasti, semangat untuk menjaga lingkungan hidup dan tata ruang di lingkar Gunung Parang harus tetap terjaga secara harmonis.

Badega Gunung Parang sejauh ini hanya sebagai pendukung gerakan komunitas-komunitas warga ini, dan akan selalu hadir jika dibutuhkan nantinya.

Gerakan Badega Gunung Parang bagai sebuah bola salju, yang awalnya kecil tanpa arah kini bergulir semakin besar dan sudah menentukan arahnya sendiri.
Setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, semua menjadi pasti, lokasi wisata ini mulai terbentuk dan menunjukkan hasilnya.


Badega Gunung Parang sudah bukan lagi kebanggaan warga kampung Cihuni, tetapi sudah menjadi kebanggaan Indonesia.


Karena disinilah pintu masuk Indonesia di mata warga dunia yang ingin berpetualang dan memanjat tebing di Gunung Parang.
Dan suka tidak suka, warga kampung Cihuni terus berbenah diri dan belajar melayani warga dunia yang berkunjung ke Badega Gunung Parang.

Kelak semua cerita ini akan diturunkan pula ke anak cucu nantinya,  bahwa pernah ada sekelompok warga yang gila-gilaan menjaga sebuah gunung batu dan membangun sebuah wisata di kaki gunung tersebut untuk hidup yang lebih baik.

Dan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapt disebutkan satu persatu yang sudah membantu seluruh proses pembangunan dan pengembangan wisata Badega Gunung Parang, Semoga Allah Subhana Wata'alla membalas semua kebaikan dan memberikan surga Nya untuk semua pihak terlibat disini.


BADEGA GUNUNG PARANG
Kampung Cihuni, 17 Desember 2013