Rabu, 19 Agustus 2015

TARAJE Sebuah Via Ferrata ala Kampung



Via ferrata umumnya berkonotasi dengan kawat dan tangga baja, tetapi di Badega Gunung Parang, kami membuatnya melalui bahan alami, berupa tangga-tangga kayu dari pepohonan hutan yang sudah patah dan berusia tua.


Tangga-tangga kayu ini kami pasang di dinding utara Gunung Parang sepanjang hampir kurang lebih 500 meter, dan membuatnya sebuah lanskap yang unik di tengah hutan.


Dengan tangga-tangga ini, para wisatawan tidak perlu lagi menempuh waktu yang lama untuk mencapai puncak tertinggi Gunung Parang yaitu Puncak Triangulasi, karena perjalanan dapat ditempuh sekitar 1,5 jam saja naik, dan 1 jam perjalanan turun.


Perbedaan yang cukup mencolok jika wisatawan menempuh rute lama pendakian Gunung Parang yang memakan waktu hampir 3 jam dan 2 jam turun, total 5 jam perjalanan pulang pergi.

Ke depan, rute TARAJE ini akan dilengkapi dengan beberapa pos-pos peristirahatan dan kawat-kawat baja pengaman, tetapi tetap mempertahankan tangga-tangga kayu dalam konstruksinya.


Jika ingin merasakan sensasi berbeda dalam mendaki gunung Parang, coba rute TARAJE sebuah via ferrata ala kampung di Badega Gunung Parang.

TIKET MASUK DAN CARA KESANA

Cukup membeli tiket Rp.10,000/orang, dan melapor di Badega Gunung Parang, wisatawan sudah bisa menikmati rute TARAJE.



Bagi wisatawan yang ingin menginap di lokasi BATU DATAR, sebuah tempat berkemah yang telah disediakan di bawah puncak Gunung Parang, wisatawan dapat melapor terlebih dahulu di Badega Gunung Parang, hal ini bertujuan untuk memonitor dan menjaga para wisatawan dari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat Gunung Parang masih disakralkan bagi sebagian penduduk disini.

Untuk rute menuju kemari, silahkan melihat peta rute yang telah tersedia di situs ini.

Selamat berpetualang !