Selasa, 29 Desember 2015

Sebuah Wisata yang Berbeda dan Tidak Biasa !

Badega Gunung Parang

Anda akan kami ajak untuk memasuki cara menikmati hidup dengan gaya yang berbeda. Disini akan disambut dengan suasana alam dan kampung di kaki Gunung Parang, sebuah gunung batu setinggi gedung pencakar langit yang tepat berada di hadapan anda.


Bale Semah at Badega Gunung Parang

Ini adalah sebuah resort yang bergaya tradisional dan alami, namun jangan berharap anda mendapat pelayanan bintang ‘lima’ atau ‘prima’, dari sebuah layanan resort atau hotel umumnya.
Jika anda berpikir dan berharap seperti itu, saran kami sebaiknya urungkan niat anda untuk datang kemari, daripada anda menyesal nantinya dan mengeluh.

Hal ini perlu diperingatkan oleh kami di awal agar anda siap menikmati berlibur dengan cara yang berbeda dan pertama di Indonesia.


Traditional Huts at Badega Gunung Parang

Badega Gunung Parang, didesain dan dibangun sebagai sebuah resort yang memiliki nilai seni dan budaya tinggi dari sebuah peradaban Sunda di Indonesia, dengan mengangkat nilai, kearifan, dan semangat kampung di tanah Sunda jaman dahulu.
Disini anda akan diajak memasuki sebuah atmosfir yang berbeda dengan berlatar belakang nuasa alam Gunung Parang, dengan bangunan-bangunan tradisional yang terbuat dari unsur-unsur bahan alami (bambu, kayu, dan batu).


Aerial View for Bale Ngaso at Badega Gunung Parang

Anda akan dilayani dengan layanan kampung, yang sebenarnya dan kesederhanaan ala kadarnya. Dan makan yang disajikan sepenuhnya adalah makanan dan minuman kampung, namun jangan kaget tiba-tiba anda juga menemukan salah satu menu kami melompat ke sebuah negara antah berantah  yang sanggup membuat anda kekenyangan dan menggoyang lidah.


Toilet Room
Inilah Badega Gunung Parang, dengan beragam keunikan dan kesederhanaannya, mencoba mengajak anda berlibur dengan cara yang berbeda.

Oh iya! Satu lagi pesan kami, siapkan diri anda dengan kesederhanaan dan jangan mengeluh jika berlibur di tempat kami.

Sampai jumpa di Badega Gunung Parang !

Selasa, 27 Oktober 2015

Taraje Beusi (a.k.a Via Ferrata) di Badega Gunung Parang

Tidak perlu bisa memanjat tebing untuk menikmati rute Via Ferrata (a.k.a TARAJE BEUSI)
Seperti yang sudah direncanakan di awal pembangungan Badega Gunung Parang di akhir tahun 2013, sebuah lintasan Via Ferrata (Tangga Besi) yang berada di dinding Utara Gunung Parang (Tower 3) selesai di bangun oleh tim panjat tebing Badega Gunung Parang.

Pekerjaan pemasangan tangga besi yang sepenuhnya dilakukan oleh anak-anak muda kampung ini, sangat mencengangkan dan patut dibanggakan, karena dalam waktu singkat mereka berhasil membuka jalur baru, sekaligus memasang tangga besi secara bersamaan.

Dibangun dengan penuh kearifan karena rute ini adalah rute turun temurun para pencari kayu bakar jaman dahulu untuk mencapai puncak Gunung Parang (Tower 3), sehingga bagi anak-anak muda yang terlibat dalam pekerjaa ini, rute Via Ferrata ini sudah tidak asing lagi.



As planned at the beginning of the construction of Badega Mount Parang at the end of 2013, a Via Ferrata (Iron Stairs) in the north wall of Mount Parang (Tower 3) has been built completed by a Badega Gunung Parang's climbing team.

Installation work iron ladder fully carried out by young people of this village, is surprising and proud, because in a short time they managed to open a new climbing route, while simultaneously installing iron staircase.


Built with great wisdom because routes are hereditary firewood seekers antiquity to reach the summit of Mount Parang (Tower 3), so that the young people involved in this work, Via Ferrata route is already familiar.


TARAJE BEUSI (a,k.a VIA FERRATA) di Badega Gunung Parang
Jalur baru ini diberi nama sesuai dengan nama lokal dari bahasa sunda yaitu TARAJE BEUSI (taraje = tangga / beusi = besi)

Cukup sediakan Rp. 100,000 / orang (Termasuk Alat dan Guide), anda sudah bisa menikmati petualangan seru TARAJE BEUSI (a.k.a VIA FERRATA) di dinding Gunung Parang, tanpa harus bisa memanjat tebing.

Nah tunggu apalagi, segera datang dan nikmati petualangan Via Ferrata rasa lokal di Badega Gunung Parang !

Pemesanan layanan : Hotline Badega Gunung Parang +62 8787 470 8230



The new route is named according to the local name of Sundanese language, namely TARAJE BEUSI (taraje = ladder / beusi = iron)

The cost is Rp. 100,000 / person (Including Gear and Guide), you can enjoy exciting adventures Taraje BEUSI (aka VIA Ferrata) in the wall of Mount Parang, without having to climb.

Well what are you waiting, soon to come and enjoy the local flavor adventure Via Ferrata in Badega Gunung Parang!


Booking services: Badega Gunung Parang Hotline +62 8787 470 8230


Petualangan rasa lokal di Badega Gunung Parang

Jumat, 23 Oktober 2015

Olahraga Ekstrim Dalam Sebuah Film dengan Citarasa Indonesia

Sang Director, Fikri Hidayat, mengarahkan para pemain di ketinggian 350 meter di dinding Tower 2 Gunung Parang
(Credit Photo : Kompas.Com / Wahyu P)

Cukup banyak film yang bercerita tentang olah raga ekstrim seperti panjat tebing, mendaki gunung, meniti tali, lompat bebas,  tapi itu di luar negeri, tidak di dalam negeri.
Dan cukup banyak iklan yang berlatar belakang olahraga ekstrim yang dibuat oleh para sutradara, tapi itu sutradara luar negeri, bukan sutradara asli Indonesia.

Quite a lot of films that tells about extreme sports like rock climbing, mountaineering, slackline, base jump, free fall, but it is abroad, not in Indonesia.
And quite a lot of advertising background extreme sports made by the director, but the international director, not native Indonesia director.

Berangkat dari ide-ide liar dari seorang Fikri Hidayat, salah seorang editor dari Kompas.Com yang sebelumnya telah membuat sebuah film pendek 'Manusia Cecak dari Gunung Parang', sebuah film dokumenter yang bercerita tentang pemajatan "Free Solo" yang pertama di Gunung Parang, terutama di Asia, oleh seorang anak kampung Cihuni, Miftah.


Departing from wild ideas of a Fikri Hidayat, one of the editors of Kompas.Com who has previously made a short film 'Geckos Man from Mount Parang', a documentary that tells the story of the first "Free Solo" Climbing on Mount Parang, particularly in Asia, by a Cihuni village boy, Miftah.

Sebuah babak baru film petualangan ekstrim di Indonesia

Film ini menjadi sebuah  babak baru film dokumenter tentang dunia panjat tebing di Indonesia, karena pertama kalinya pemanjatan bebas tanpa tali dan pengaman dilakukan di Indonesia, khususnya di Gunung Parang.
Dan terlebih lagi oleh seorang anak kampung Cihuni, yang besar dan hidup di kaki Gunung Parang, dan terbilang baru mengenal dunia panjat tebing profesional.
Gebrakan film dokumenter 'manusia cecak' membawa dunia panjat tebing di Indonesia ke tingkat yang lebih ekstrim lagi, dan membuat sebuah rekor baru di Indonesia dan Asia tentunya.

The film became a new chapter documentary about the world of rock climbing in Indonesia, for the first time solo free climbing in Indonesia, particularly in the Mount Parang.
And moreover by a Cihuni village boy, large and live at the foot of Mount Parang, and relatively new to the world of professional rock climbing.

The breakthrough documentary 'Geckos Man from Mount Parang' brings the world of rock climbing in Indonesia to a more extreme level, and create a new record in Indonesia and of course Asia.

Dari sini, Fikri Hidayat, melanjutkan proyeknya kembali dengan membuat sebuah film petualangan ekstrim di Gunung Parang, sekali lagi dengan Miftah yang disandingkan dengan Abiyoga, seorang talent yang tidak mengenal bahkan memanjat tebing sama sekali, dengan latar belakang yang bercerita tentang petualangan panjat tebing di dinding Gunung Parang.

From here, Fikri Hidayat, continuing the project back by creating an extreme adventure film on Mount Parang, again with Miftah coupled with Abiyoga, a talent who do not know even a rock-climbing at all, with a background that tells about the adventures climbing wall Mount Parang.

Suplai 50 Liter Air dalam 24 jam

Ide cerita yang gila, dan persiapan yang singkat, tidak menyurutkan niat untuk mengejar hasil yang maksimal dengan tenggat produksi yang ketat. 
Tim Kompas.Com dan Badega Gunung Parang akhirnya dapat menyelesaikan proyek film ini dengan  nilai faktor keselamatan yang memuaskan.

The idea of a crazy story, and the preparation is short, do not dampen the intention to pursue the maximum results with rigorous production deadlines.

Kompas.Com team and Badega Gunung Parang finally able to complete the film project with a satisfactory safety factor value.

Suplai logistik yang harus diselesaikan dalam tempo 24 jam 

Suplai logistik, terutama air di musim kemarau yang melanda di Gunung Parang, juga merupakan sebuah hambatan yang perlu diperhitungkan dan memerlukan sebuah strategi tersendiri. Karena jangan sampai semua tim yang sedang melakukan syuting di atas ketinggian dinding Gunung Parang menderita dehidrasi.
Untuk itulah suplai air sebanyak hampir 50 liter per hari diperlukan tenaga ekstra yang membuat tim pendukung harus bolak-balik naik turun dari Base Camp ke Pitch 6 (kurang lebih setinggi 350 meter) dalam kurun waktu 24 jam, yang membuat pergerakan tim sedikit terhambat, namun pada akhirnya bisa terselesaikan juga.

Logistics supply, especially in the dry season which struck at Mount Parang, is also an obstacle that needs to be taken into account and requires a separate strategy. Because not to all the teams who are shooting above the height of the walls of Mount Parang suffering from dehydration.

For this reason water supply as much as nearly 50 liters per day needed extra power makes the support team had to go back and forth up and down from Base Camp to Pitch 6 (approximately as high as 350 meters) within a period of 24 hours, which makes the movement of the team slightly delayed, but eventually be resolved as well.

Jatuh 10 Meter di ketinggian 450 meter !

Bagi pemanjat tebing, jatuh dari tebing adalah hal biasa jika melalui jalur-jalur sulit.
Tapi mungkin ceritanya akan lain, jika adegan jatuh diperankan oleh talent yang tidak pernah memanjat tebing sama sekali, bahkan jatuhnya tidak tanggung-tanggung, di ketinggian 450 meter di Tower 2 Gunung Parang sepanjang 10 meter.

For rock climbers, fell from a cliff is common when through difficult paths.

But perhaps the story would have been different, if the scene crashed played by talent that never climb at all, even fall no half-hearted, at an altitude of 450 meters in the Mount Parang Tower 2 along 10 meters.

Adegan jatuh di ketinggian 450 meter, cukup bikin jantung talent hampir copot

Disinilah tim Badega Gunung Parang harus ekstra hati-hati, dan menyiapkan semua pengaman dengan sempurna, tidak ada boleh ada kesalahan, dan semua harus di back up, dan di cek ulang tanpa terkecuali.

This is where the team Badega Gun Parang be extra cautious, and prepared all with perfect safety, there should be no errors, and all must be backed up, and cross checked without exception.

Bersyukur, adegan jatuh yang dilakukan sebanyak 2 kali, berhasil dilakukan oleh Abiyoga dengan sempurna, dan membuatnya cukup lama untuk normal kembali.
Terbayang jantung hampir copot ketika harus jatuh sejauh 10 meter diketinggian 450 meter, penyiksaan talent yang sempurna !

Grateful, fall scenes performed 2 times, successfully carried out by Abiyoga perfectly, and make it long enough to get back to normal.

Imagined heart almost dislodged when it should fall as far as 10 meters altitude of 450 meters, torture talent perfect!

Yuk, kita tunggu dan saksikan film petualangan ekstrim dengan citarasa lokal....

Let's wait and see extreme adventure movie with a local flavor ....


Tim Kompas.Com berfoto bersama Badega Gunung Parang

Senin, 12 Oktober 2015

Ketika 4 Gunung di Purwakarta Bersatu

Komunitas Wisata 4 Gunung di Purwakarta

Dan mimpi itu akhirnya menjadi sebuah kenyataan ketika para pengelola wisata alam yang berada di 3 desa di Purwakarta, bersatu dalam sebuah wadah komunitas wisata 4 gunung yaitu Gunung Parang, Gunung Bongkok, Gunung Lembu dan Gunung Anaga.

Ide-ide liar yang dicetuskan oleh para pengelola wisata menjadi sebuah bola salju yang semakin besar dan tidak dapat dibendung lagi, ketika semua bergerak ke satu titik untuk menjadikan wisata alam sebagai nilai tambah dari perekonomian warga kampung sekitar.

Dan langkah ini adalah perintisan awal untuk membangun pondasi ekonomi kreatif melalui jalur wisata dan budaya di sekitar gunung Parang, Bongkok, Anaga, dan Lembu.

Komunitas Wisata 4 Gunung di Purwakarta


Komunitas yang dibentuk pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 2015, jam 20.00 secara bulat telah memilih Bp. H. Jajang sebagai ketua komunitas dengan dibantu oleh beberapa orang dari masing-masing kelompok ke empat gunung tersebut.

Tujuan dari pembentukan komunitas ini adalah untuk saling bekerjasama dalam beragam bidang pariwisata dan pemberdayaan masyarakat sekitar, serta menjadi tempat musyawarah untuk bersama-sama membahas beragam isu dan pemecahannya.
Dan diharapkan kedepannya, akan terjadi sinergi bersama untuk mengangkat pariwisata ke tingkat internasional dan memberi dampak positif bagi warga sekitar.

Wisata Alam Gunung Lembu

Dengan semangat "Dari Kita untuk Kita", komunitas ini membuktikan bahwa pariwisata di Purwakarta sedang menggeliat dan menunjukkan bentuknya ke arah yang positif tanpa bantuan dari pihak manapun.

Dan ini membuktikan bahwa warga kampung pun bisa profesional !






Jumat, 09 Oktober 2015

Belajar dan Wisata Panjat Tebing di Gunung Parang

Climbing Course

Belajar panjat tebing tidak sesulit yang dibayangkan, meskipun anda adalah seorang yang belum pernah sama sekali memanjat tebing sekalipun.


Climbing Course
Disini kami mengembangkan cara untuk mempelajari panjat tebing untuk para pemula secara aman dan efektif, sehingga anda tidak perlu lagi pusing dan memikirkan beragam kesulitan yang mungkin terjadi.

Prinsip dasar kami adalah belajar dengan menyenangkan, bukan belajar dengan cara mengerikan.

Dengan memegang pedoman dasar keselamatan pemanjatan tebing, kami mengajak anda untuk menyelami dunia panjat tebing di Gunung Parang.

~~~~~~~

Learn rock climbing is not as difficult as one might imagine, even if you are someone who has never been entirely climbing though. 


Climbing Course
Here we develop a way to learn rock climbing for beginners safely and effectively, so you  do not need a headache and think of a variety of difficulties that may occur.

Our basic principle is to learn with fun, instead of learning the horrible way.

By holding the basic safety guidelines climbing, we invite you to dive into the world of rock climbing on Mount Parang.


Fun Climbing

Sebuah program dasar untuk belajar panjat tebing selama 1 (satu) hari, anda akan diajak untuk berpetualang layaknya seorang pemanjat tebing disini.


Fun Climbing
Anda tinggal datang kemari, dan semua peralatan serta instruktur sudah disediakan oleh kami.

Fun climbing, bukanlah program wisata tanpa resiko, anda juga diminta untuk selalu waspada terhadap beragam kemungkinan yang terjadi, meski 99% semua faktor keselamatan sudah dipenuhi, masih ada 1% faktor yang tidak dapat dicegah, takdir dari Sang Maha Kuasa.

Jadi, bukannya kami menakuti anda, tetapi kami hanya mengingatkan bahwa olahraga ini adalah olahraga berbahaya dan anda harus memahami itu, meski kami membuatnya secara menyenangkan.

~~~~~~~~

A basic program for learning rock climbing for 1 (one) day, you will be invited for an adventure like a rock climber here.


Fun Climbing
You just come here, and all the equipment and instructors have been provided by us.

Fun climbing, not a tourist program without risk, you are also required to always be alert to the variety of possibilities that may occur, even though 99% of all the factors of safety are met, there is still 1% factor that can not be prevented, the destiny of the Almighty.


So instead we scare you, but we just remind that this sport is a dangerous sport and you have to understand that, even if we make it fun



Climbing Tour

Sebuah program wisata panjat tebing yang di desain khusus untuk wisatawan yang ingin merasakan ekspedisi panjat tebing yang sebenarnya di dinding Gunung Parang.

Disini anda kami ajak untuk memanjat dan tidur di atas tebing dengan menggunakan peralatan khusus dan ditemani oleh para guide kami yang telah berpengalaman.

Program ini akan disesuaikan dengan kebutuhan anda, apakah ingin ke Puncak Gunung Parang atau hanya ingin melewati malam di dinding Gunung Parang, semua terserah anda yang mengatur, dan kami akan menemani anda selama berpetualang disini.

~~~~~~~~

A rock climbing tour program designed specifically for tourists who want to experience the real rock climbing expedition on Mount Parang wall.


Climbing Tour
Here we invite you to climb up and sleep on top of a cliff by using special equipment and accompanied by our experienced guide.

This program will be tailored to your needs, whether you want to the summit of Mount Parang or just want to spend the night on the wall Mount Parang, all up to you the set, and we will accompany you during the adventure here.






Selasa, 06 Oktober 2015

Kebakaran hutan melanda Gunung Parang

“ Gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak. Tatangkalan dileuweung teh kudu di pupusti. Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak ”

Kebakaran hutan di Gunung Parang, Sabtu sore, 3 Oktober 2015

Sabtu 3 Oktober 2015 - 15.00pm, Sebuah pelajaran yang sangat berharga dan tidak bernilai dari Gunung Parang untuk kita semua, bahwa nilai-nilai luhur dan kearifan yang diwariskan para karuhun telah diabaikan dan dilupakan.

Kebakaran hutan yang berlangsung selama 2 hari
Hanya dari sebuah percikan bara api kecil yang berasal dari kelalaian dan kebodohan manusia yang tidak perduli dan kondisi alam saat itu berpotensi mengundang bencana, terjadilah kebakaran hebat yang membumi hanguskan kawasan hutan yang berada disebagian kaki dan puncak Gunung Parang.

Tidak ada yang perlu dipersalahkan disini ataupun mencari kambing kambing hitam dalam peristiwa kebakaran ini, karena hanya kesia-siaan saja, dan tidak sebanding dengan kerugian yang terjadi di Gunung Parang saat ini.

Yang perlu perhatikan bagi semua orang / pendaki / pemanjat / wisatawan, ambil hikmahnya atas semua ini, dan patuhi dan hormati segala aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada di Gunung Parang.

Bagaimanapun juga, yang hidup disini bukan hanya manusia, tetapi juga para binatang dan para karuhun.

Kami atas nama Badega Gunung Parang mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada Bapak Bupati Purwakarta H. Dedi Mulyadi SH beserta seluruh jajaran Pemda Purwakarta, DamKar Purwakarta,  POLRI, TNI, rekan Pers dan Media, dan semua pihak tanpa terkecuali yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berjibaku dan meluangkan waktu akhir pekannya untuk membantu proses pemadaman api di Gunung Parang, semoga Allah Yang Maha Agung membalas dengan SurgaNya kelak.

Gunung Parang, 3 - 4 Oktober 2015 15.00pm - Di Atas Api

Selasa, 22 September 2015

Gunung Parang selintas pandang

Gunung Parang (Mount Parang)
Gunung Parang yang terletak di wilayah kabupaten Purwakarta, adalah gugusan pegunungan batuan andesit purba yang terjadi dari sebuah  intrusi, yaitu magma (bahan gunung api) yang menerobos menuju ke permukaan namun keburu membeku sebelum muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api.  Sejalan dengan waktu, tanah di atas intrusi ini tererosi dan akhirnya memunculkan gunung ini.
Sejauh ini masih belum ada penelitian resmi ataupun tidak resmi yang mendalam dari pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan geologi Gunung Parang ini.

Gunung batu ini sendiri memiliki ketinggian total 963 meter dari permukaan laut, dengan diapit oleh dua bendungan terbesar di Indonesia yaitu Jatiluhur dan Cirata.
Secara administrasi Gunung Parang terletak di Kecamatan Tegalwaru dan menjadi perbatasan antara dua desa yaitu Desa Sukamulya dan Desa Pasanggrahan.

Mitos dan Legenda

Gunung Parang juga dikenal oleh masyarakat Karawang dan sekitarnya adalah Gunung Barang, entah dari mana mereka memperoleh julukan ini.
Di runut dari cerita yang melegenda, bahwa jika ingin memperoleh kekayaan dan kemakmuran, datanglah ke Gunung Parang (aka. Gunung Barang).

Dan sampai saat inipun dibalik keindahan Gunung Parang, masih tersimpan beberapa mitos dan legenda yang beredar di Gunung Parang.

Ada beberapa legenda yang beredar di masyarakat antara lain; Nyai Ronggeng, Ki Pat Tinggi, Ki Jonggrang dan Mbah Jambrong, dan beberapa lainnya, dan masing-masing legenda tersebut saling terkait dan akhirnya berujung pada Kerajaan Padjajaran.

Dan menjadi hal yang wajar jika masyarakat lingkar Gunung Parang masih mempercayai hal-hal di luar nalar yang terjadi seperti teluh (santet), pesugihan, dan lain sebagainya dalam dunia mistis di dunia yang serba modern seperti saat ini.

Masih diperlukan pendalaman sejarah dan budaya yang ada di lingkar Gunung Parang, karena biasanya di balik sebuah legenda, ada sebuah kearifan adi luhung dari nenek moyang sebelumnya.

Gunung Parang (Mount Parang) - Salah satu lokasi Badega
 Sejarah yang hilang

Dari segi budaya, masyarakat yang tinggal di lingkar gunung Parang didominasi oleh kultur budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat lingkar Gunung Parang banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar.
Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan nilai-nilai agama, terutama agama Islam.

Dirunut dari asal usul nenek moyang masyarakat lingkar Gunung Parang kebanyakan berasal dari wilayah Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Namun hal ini masih perlu penelitian lebih jauh tentang asal usul masyarakat yang pertama kali mendiami lingkar gunung ini.

Dari sisi budaya, banyak masyarakat terutama generasi muda yang sudah tidak mengenal adat dan budaya sunda yang menjadi dasar kehidupan mereka saat ini. Dan ini bisa dimaklumi, karena kakek nenek bahkan orangtua mereka tidak menurunkan atau mengajarkan adat dan budaya secara langsung kepada mereka.

Dan dari sisi bahasa pun, masing-masing kampung di lingkar Gunung Parang memiliki aksen bahasa sunda yang berbeda satu sama lain, meski hanya terpisah 2-3 km jaraknya.
Begitu pula dengan karakter dan kehidupan di masing-masing kampung, masing-masing memiliki keunikan dan menambah kekayaan budaya di lingkar Gunung Parang.

Jalan Setapak menuju Bale Fatimah di Badega Gunung Parang

Ketika para artis "Air Mata Fatimah" bertemu dengan Bupati Purwakarta

Dwika Andika, Bapak H. Dedi Mulyadi, Anindika Widya berpose bersama setelah acara ramah tamah di Pendopo Kabupaten Purwakarta
Siang yang panas di penghujung musim kemarau 17 September 2015, tidak menyurutkan niat kami bersama para kru dan artis film “Air Mata Fatimah” bertemu dengan Bapak H. Dedi Mulyadi SH, selaku Bupati Purwakarta di Pendopo Kabupaten.

Bersama kami ada Dwika Andika, Anindika Widya, dan sutradara Oka Mahadi beserta kru dari PH Cosmics, sekaligus menyerahkan undangan pemutaran perdana film Air Mata Fatimah dan perkembangan Badega Gunung Parang sejauh ini.

Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, menyampaikan salam pembukaan untuk pemutaran film "Air Mata Fatimah"

Secara tidak langsung Bapak H. Dedi Mulyadi SH, menyampaikan pesan dan kesan tentang film Air Mata Fatimah yang telah mengambil lokasi syuting di Badega Gunung Parang, yang secara tidak langsung telah mengangkat salah satu keindahan alam di Purwakarta.

Dan beliau juga menyampaikan visi dan misinya ke depan tentang pengembangan pariwisata di Purwakarta dan lingkar Gunung Parang khususnya. 
Diharapkan melalui film Air Mata Fatimah, kabupaten Purwakarta semakin dikenal lagi di Indonesia.

Badega Gunung Parang bersama para artis dan kru "Air Mata Fatimah"
Tidak hanya berhenti disini, PH Cosmic yang diwakili oleh sutradara Oka Mahadi menyampaikan rencananya untuk membuat satu film lagi yang akan mengambil tempat masih di lingkar Gunung Parang dan sekitarnya, dengan mengambil cerita yang bertemakan religi dan pendidikan.

Pada akhirnya, semua komponen bersinergi di Badega Gunung Parang, mulai dari budayawan, politikus, dan petualang, serta orang kampung untuk membawa nama Indonesia melalui sebuah film.

Bukankah ini sebuah cerita yang indah?


Selasa, 15 September 2015

Film Air Mata Fatimah siap tayang 1 Oktober 2015

Sebuah film drama Indonesia dengan sentuhan religi, "Air Mata Fatimah" akan tayang tanggal 1 Oktober 2015 di seluruh bioskop di Indonesia.

Film yang dibintangi diantaranya oleh Dwi Andhika, yang kali ini berperan sebagai Ichsanudin, pacar Fatimah.
Karakter Fatimah diperankan oleh Syarifah Reihan, bintang baru yang hadir di jagad perfilm Indonesia.
Serta didukung oleh artis-artis senior dan pendatang baru antara lain Syarifah Reihan Afridila - Anindika Widya - Dwi Andhika - Reza Pahlevi - Dwi Sartika - Ali Kribo - Jian Batari - Oka Sugawa - Vikri Rasta - Violeta Mongi - Jajang C. Noer - Yafi Tesa Zahara

Apa hubungannya dengan Badega Gunung Parang?

Film yang mengambil lokasi sepenuhnya di Badega Gunung Parang, yang menggambarkan situasi kehidupan jaman dahulu kehidupan masyarakat desa di kaki sebuah Gunung.

Syuting film ini sendiri berlangsung selama hampir 20 hari di Badega Gunung Parang, dengan membawa seluruh perlengkapan, kru dan artis ke lokasi.
Bersama kami dengan seluruh kru dan artis film,  semua berjibaku untuk menuntaskan film ini tanpa memikirkan kondisi alam yang sangat buruk, karena berada di penghujung musim hujan.

Awalnya tim produksi dari COSMIC Production House melihat potensi keindahan alam yang ada di Badega Gunung Parang dan beberapa kisah perjalanan Badega Gunung Parang yang tidak jauh berbeda dengan plot utama cerita di film Air Mata Fatimah, tentang keikhlasan dan kesabaran.

Inilah kesabaran yang berujung manis, Film "Air Mata Fatimah" kini siap tayang dan dapat dinikmati oleh seluruh dunia.

Selamat menonton !


Air Mata Fatimah @2015

Rabu, 19 Agustus 2015

TARAJE Sebuah Via Ferrata ala Kampung



Via ferrata umumnya berkonotasi dengan kawat dan tangga baja, tetapi di Badega Gunung Parang, kami membuatnya melalui bahan alami, berupa tangga-tangga kayu dari pepohonan hutan yang sudah patah dan berusia tua.


Tangga-tangga kayu ini kami pasang di dinding utara Gunung Parang sepanjang hampir kurang lebih 500 meter, dan membuatnya sebuah lanskap yang unik di tengah hutan.


Dengan tangga-tangga ini, para wisatawan tidak perlu lagi menempuh waktu yang lama untuk mencapai puncak tertinggi Gunung Parang yaitu Puncak Triangulasi, karena perjalanan dapat ditempuh sekitar 1,5 jam saja naik, dan 1 jam perjalanan turun.


Perbedaan yang cukup mencolok jika wisatawan menempuh rute lama pendakian Gunung Parang yang memakan waktu hampir 3 jam dan 2 jam turun, total 5 jam perjalanan pulang pergi.

Ke depan, rute TARAJE ini akan dilengkapi dengan beberapa pos-pos peristirahatan dan kawat-kawat baja pengaman, tetapi tetap mempertahankan tangga-tangga kayu dalam konstruksinya.


Jika ingin merasakan sensasi berbeda dalam mendaki gunung Parang, coba rute TARAJE sebuah via ferrata ala kampung di Badega Gunung Parang.

TIKET MASUK DAN CARA KESANA

Cukup membeli tiket Rp.10,000/orang, dan melapor di Badega Gunung Parang, wisatawan sudah bisa menikmati rute TARAJE.



Bagi wisatawan yang ingin menginap di lokasi BATU DATAR, sebuah tempat berkemah yang telah disediakan di bawah puncak Gunung Parang, wisatawan dapat melapor terlebih dahulu di Badega Gunung Parang, hal ini bertujuan untuk memonitor dan menjaga para wisatawan dari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat Gunung Parang masih disakralkan bagi sebagian penduduk disini.

Untuk rute menuju kemari, silahkan melihat peta rute yang telah tersedia di situs ini.

Selamat berpetualang !






Selasa, 18 Agustus 2015

Beragam Ekspresi Tamu



Sepanjang Badega Gunung Parang, berdiri sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya 17 Desember 2013, sudah tidak terhitung tamu-tamu kita datang silih berganti. Ada yang kecewa menjumpai tempat wisata ini tidak seperti yang mereka harapkan, ada yang tercengang dengan kemegahan alam yang tersaji di Badega Gunung Parang, ada yang hanya terdiam dan membisu ketika mereka sudah berada di depan Badega Gunung Parang, bahkan ada yang teriak kegirangan mereka sudah sampai di Badega Gunung Parang.

Beragam ekspresi terekam oleh mata kami, kecewa, sedih, gembira bercampur aduk menjadi satu di Badega Gunung Parang.

Badega Gunung Parang memang bukanlah tempat wisata kebanyakan, dan kami selalu mewanti-wanti para pengunjung atau tamu yang memesan atau datang ke tempat kami, agar tidak mengharapkan layanan bintang lima, ataupun layanan penuh seperti tempat wisata lainya.

Disini, tamu bisa bebas menikmati kemegahan alam dengan apa adanya, tanpa harus dipoles dengan layanan ramah yang semu, karena kami melayani anda semua dengan apa adanya.

Selamat datang di Badega Gunung Parang, mari kita berpetualang!

Pengibaran Bendera Merah Putih Ukuran Raksasa




Ada saja cara unik merayakan hari kemerdakaan Republik Indonesia, salah satunya adalah cara para penikmat kegiatan alam bebas yang tergabung dalam Colony Java Adventure dari Purwakarta, mereka melakukan caranya sendiri dengan mengibarkan bendera Merah Putih ukuran raksasa 30x40 meter di puncak tower 2 Gunung Parang.

Pengibaran bendera raksasa ini tepat dilakukan pada detik-detik perayaan proklamasi Rebuplik Indonesia yang ke 70 tahun,  pada tanggal 17 Agustus 2015, dengan diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh para peserta yang mengikuti upacara di zona bawah Badega Gunung Parang, tepat di kaki Gunung Parang.

Proses acara ini dibantu dan dimonitor oleh tim panjat Badega Gunung Parang berlangsung selama 3 hari sebelum hari H, dan semuanya berlangsung aman dan tepat waktu.
Bisa dibilang inilah proses tercepat pengibaran bendera raksasa yang pernah dilakukan di Gunung Parang, mengingat jalur pemanjatan di Tower 2 lumayan berat untuk sampai ke puncaknya.

Dan tepat jam 09.00 pagi tanggal 17 Agustus 2015, sang saka Merah Putih terbentang di puncak Tower 2 Gunung Parang.

Dirgahayu Indonesia ku!

Kamis, 13 Agustus 2015

Ada Kursus Gratis Panjat Tebing di Badega

Semenjak awal berdiri sampai saat ini, sudah beberapa kali Badega Gunung Parang memberikan kursus panjat tebing bagi para pemula, belajar mulai dari cara memanjat tebing sampai dengan belajar mengelola ekspedisi panjat tebing di tebing yang sebenarnya.

Since the beginning of its establishment until today, has several times Badega Mount Parang give rock climbing courses for beginners, learn from the climbing techniques up to learn to manage climbing expedition in the bigwall.

Simulasi manajemen tali dan tambatan sebelum praktek di tebing sebenarnya 

Kali ini Badega Gunung Parang sengaja memberikan kursus gratis panjat tebing bagi para anak-anak muda Purwakarta dan sekitar gunung Parang untuk lebih mengenalkan dunia panjat tebing, disamping menggali potensi dan bakat terpendam mereka untuk meneruskan dan mengelola Badega Gunung Parang di masa mendatang.

This time Badega Gunung Parang intentionally provide a free rock climbing courses for young children from Purwakarta and surrounding mountains Parang to introduce the world of rock climbing, as well as explore their latent potential and talent to continue and manage Badega Gunung Parang in the future.


Peserta Bigwall Climbing Course (Special Program Batch 1)

Awalnya sempat ragu juga untuk memberikan kursus gratis ini, karena selain tidak memiliki dana, juga  tidak ada dukungan sponsor, serta keterbatasan instruktur, akhirnya kursus gratis ini dijalankan juga, namun dengan membatasi jumlah peserta, agar tidak terlalu membludak.
Tidak ada yang tidak mungkin disini, semua jika dilakukan dengan ikhlas, pasti ada jalan, itu yang kami pegang dari awal.

Initially also hesitated to provide free courses, because in addition to not having the funds, nor is there any sponsor support, as well as the limitations of the instructor, finally free course is run as well, but by limiting the number of participants, so as not too booming.
Nothing is impossible here, all if done with sincerity, there is a way, that we hold from the beginning.

Belajar mengelola peralatan panjat tebing

Akhirnya kursus gratis ini bisa berjalan dengan lancar, bahkan para peserta sangat antusias mengikuti program ini, yang rencananya akan terbagi dalam 3 session dan berakhir nanti tanggal 1 Januari 2016.

Finally free course can run smoothly, even the participants were very enthusiastic about joining the program, which will be divided into 3 sessions and ended later date of January 1, 2016.


Simulasi pemanjatan malam hari 

Bukan karena gratis kemudian program kursus ini diberikan asal-asalan, malah kursus ini didesain sedemikian rupa sehingga diharapkan mereka yang berhasil lulus nanti, bisa memahami panjat tebing bukan ala kadarnya, tetapi diharapkan mereka mampu untuk menjadi guide atau instruktur di Badega Gunung Parang.

Not because it is free then program these courses are given at random, even these courses are designed such that they expected a successful graduate can understand rock climbing not perfunctory, but they are expected to be able to guide or instructor in Badega Mount Parang.

Photos Bigwall Climbing Course - Special Program Batch 1 (2015)




Selasa, 11 Agustus 2015

Disinilah Petualangan Yang Sebenarnya Dimulai !

Jika kamu ingin mencari liburan yang lain dari biasanya, dan ingin lepas dari kepenatan kota ataupun mencari sesuatu yang berbeda, datang ke tempat kami !

Disini kamu bisa melakukan beragam aktifitas petualangan dari mulai; panjat tebing, trekking ke gunung ataupun hutan, atau jalan-jalan di kampung untuk mengenal kehidupan kampung lebih dekat.

Atau kamu mencari tempat berkumpul bersama keluarga atau teman ataupun kantor, datang ke tempat kami, nikmati alam disini.

Hanya 3 jam dari Jakarta, dan berada di pinggir kota Purwakarta, kamu akan menemui sebuah surga yang tersembunyi disini, namanya Badega Gunung Parang.

Mau coba, eksplor terus situs kami, dan temukan keindahan alam Gunung Parang.

~~~~~~~

If you want to find another holiday than usual, and want to get rid of the fatigue of the city or looking for something different, come to us!

Here you can perform a variety of adventure activities begin; rock climbing, trekking into the mountain or the jungle, or the village to get to know more closely the life of the village.

Or you are looking for a gathering with family or friends or colleagues from office, came to our place, enjoy nature here.

Only 3 hours from Jakarta, and is in the suburbs Purwakarta, you will find a hidden paradise here, his name Badega Parang Mountains.


Want to try, continue to explore our site, and discover the natural beauty of Mount Parang.


Family's Time

No Gadget Time !

Everything about nature here

Kamis, 30 Juli 2015

Alamat Website Baru !

Jangan bingung jika anda menemukan alamat yang berbeda di internet untuk website Badega Gunung Parang, yang saat ini anda kunjungi.

Kami sengaja membuat 2 alamat website untuk memudahkan anda mengingat kami di internet, 

Alamat pertama adalah http://kampungcihuni.blogspot.com

Dan alamat kedua adalah http://badegaparang.blogspot.com

Semua isi dari situs tersebut adalah sama, hanya saja akan menambah ruang media penyimpanan foto-foto dan video dari kami yang semakin hari semakin membludak.

Sengaja situs ini kami buat sesederhana dan seinformatif mungkin, agar anda dan semua orang yang ingin mengetahui tentang Badega Gunung Parang dan daerah sekitarnya dapat mengaksesnya, walau hanya menggunakan handphone yang paling sederhana sekalipun atau menggunakan jaringan internet terbatas.

Selamat mengeksplorasi situs kami ini.

Alamat website http://badegaparang.blogspot.com

Rabu, 08 Juli 2015

Kuliner Kampung Yang Bikin Kangen

Sate Marannggi dan Kelapa Muda Khas Badega Gunung Parang

Sekarang kamu bisa memanjakan lidah dan perutmu untuk menikmati sajian kuliner khas Purwakarta, mulai dari Sate Maranggi, Ikan Bakar, Nasi Liwet, Ketan Bakar sampai Kelapa Muda, bahkan beberapa makanan khas kampung yang mungkin sekarang sudah tidak dijual di pasar.

Semua makanan kampung di seluruh Purwakarta, kini mulai satu persatu mulai disajikan disini sesuai dengan konsep Badega Gunung Parang sebagai wisata adat, budaya, dan petualangan di Purwakarta.

Tidaklah mudah untuk menggerakkan orang kampung untuk menyajikan makanan tradisional yang biasa mereka makan untuk para tamu, karena mereka terbiasa menyajikan hanya untuk keluarga bukan untuk dijual.
Dan kini Badega Gunung Parang mengajak mereka yang berani dan kreatif di kampung untuk bersama-sama menggerakkan ekonomi desanya melalui kuliner kampung.

Kini semua tergantung selera, mau mencoba tantangan petualangan kuliner?

Datanglah ke Badega Gunung Parang

Kamis, 02 Juli 2015

Membangun peradaban baru di Badega

Bale Besar

Perlahan tapi pasti, melalui tangan-tangan kekar dan dingin para tenaga kampung, Badega Gunung Parang mulai berbenah diri dengan menambah beberapa fasilitas infrastruktur di lokasi wisata Badega Gunung Parang, Purwakarta, Indonesia.

Mulai dari rumah-rumah adat sunda sampai dengan Bale Besar yang nantinya digunakan untuk beragam acara budaya nantinya, sepenuhnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami, mulai dari kayu, ijuk, bambu, kirai, dan bebatuan sungai.


Rumah Adat Sunda

Pembangunan ini sepenuhnya tidak terlepas dari tangan dingin dan dukungan penuh Bupati Purwakarta Bapak H. Dedi Mulyadi SH, yang dari awal Badega Gunung Parang berdiri dan diresmikan sampai sekarang terus menerus konsisten mendukung gerakan wisata dan budaya di sekitar Gunung Parang dan Purwakarta secara keseluruhan.
Patut diacungi jempol untuk Bapak H. Dedi Mulyadi SH, ditengah kesibukannya yang seabreg, ternyata beliau masih meluangkan waktu untuk memikirkan perkembangan Badega Gunung Parang.

Infratruktur yang sedang dibangun sekarang, konsep dasarnya adalah mengadopsi bangunan adat sunda, namun ditambah dengan sentuhan tradisional dari beragam adat dan budaya nusantara pada beberapa bagian lainnya.


Bale Besar yang berada di kaki Gunung Parang

Kesederhanaan dan alami adalah semangat dasar dan menjadi bahasa baku dari seluruh bangunan yang ada disini.
Pembangunan tahap kedua di Badega Gunung Parang, seperti membangun sebuah peradaban baru di kaki Gunung Parang.

Tertarik? Tunggulah beberap waktu lagi untuk peresmiannya, karena proyek ini sedang dikebut untuk penyelesaian sebelum akhir tahun ini.


---------

Build a new civilization in Badega

Slowly but surely through cold and muscular hands, Badega Gunung Parang begin to improve itself by adding a number of infrastructure facilities at their locations, near Mount Parang, Purwakarta, Indonesia.

Ranging from Sundanese homes up with Bale that will be used for a variety of cultural events will be, entirely built using natural materials, ranging from wood, fibers, bamboo, long strip, and river rocks.


All infratructure using natural material

This development can not be separated entirely from the cold hand and full support of Purwakarta Regent Mr. H. Dedi Mulyadi SH, which from the beginning Badega Gunung Parang stand and formalized until now continuously consistently supported movement and cultural tour around Mount Parang and Purwakarta overall.
Admirable for Mr. H. Dedi Mulyadi, SH, amid the preoccupations which super busy, it turns out he is still taking time to think about the development Badega Gunung Parang.

Infrastructure that is being built now, the concept is essentially adopting Sundanese traditional building, but coupled with traditional touches of diverse customs and culture of the archipelago in some other parts.


the concept is essentially adopting Sundanese traditional building

Simplicity and natural is the basic spirit and become the standard language of all the buildings that are here.
Construction of the second stage in Badega Gunung Parang, such as building a new civilization in the foothills of Mount Parang.


Interested? Wait be some time again for the inauguration, because the project is being accelerated for completion before the end of this year.