Selasa, 03 Juni 2014

Sejarah baru telah diukir di Gunung Parang

Ki Soun membacakan Rajah
Rabu, tanggal 21 Mei 2014, adalah hari yang dinantikan oleh semua warga kampung Cihuni dan warga kampung lainnya yang ada dilingkar Gunung Parang. 


Inilah Pesta Rakyat 
Bagaiamana tidak ditunggu-tunggu, acara yang awalnya akan kita gelar sejak bulan Maret 2014, ternyata harus diundur beberapa kali karena jadwal Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH, sangat padat, sedangkan beliau berkeinginan sekali untuk menghadiri acara ini.
Beragam cibiran, kritikan, cacian, bahkan pertanyaan, menghujam kami di Badega Gunung Parang, tentang jadinya acara ini. Namun kami tetap berkeyakinan bahwa acara siap kami gelar dengan segala resiko dan 
kondisi yang terjadi nantinya.



Legenda Nyi Ronggeng seolah hadiri di malam ini
Beberapa warga kampung bahkan mempertanyakan apakah acara ini digelar atau tidak, begitu pula beberapa rekan media, kerabat, dan semua orang mengajukan pertanyaan yang sama.

Awalnya kami cukup gentar dengan pagelaran acara ini, karena disatu sisi kami hanya sebagai warga kampung biasa yang tidak memiliki dana cukup untuk gelaran akbar ini, hanya bermodal nekad dan keyakinan saja. 


Celempung dan Karinding turut dimainkan

Tapi disisi lain, rekan-rekan kami dari Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) mendukung kami untuk bahu membahu mempertajam ide dan kreatifitas bersama anak-anak kami dari mulai kampung Cihuni, Cikandang, dan Cisarua di Badega Gunung Parang.

Pagelaran akbar ini, tidak terlepas dari bantuan total dari pihak KASUNDA yang sudah sebulan penuh mempersiapkan acara ini tanpa memperhitungkan lagi waktu, tenaga, dan perasaan yang terbuang, semuanya totalitas untuk pengembangan seni dan budaya di lingkar Gunung Parang.
Kang Wawan, Ketua Badega Gunung Parang
Dan tibalah berita tanggal 16 Mei 2014, Jumat sore hari, ketika kita baru saja meeting dari Purwakarta. Salah seorang staf protokoler Bupati, mengabarkan kepada kami bahwa acara minta diundur kembali tanggal 28 Mei 2014, karena Bapak Bupati Purwakarta akan menghadiri acara lain.
Bagai disiram air ditengah gelegak api kreatifitas yang membara, pupus sudah harapan kami!

"Tuhan tidak tidur kok!", seru Mang Yunus, salah satu penggagas Badega Gunung Parang, "Kita teruskan saja, toh! semua sudah siap", tegasnya.
"Soal sound system apa adanya aja, kan acara tahun baru kemarin kita bisa".

Seperti sebuah teh manis di pagi buta, memberi semangat dan harapan untuk rekan-rekan KASUNDA dan anak-anak muda lainnya yang mempersiapkan acara ini.

Tanpa berpikir panjang lagi, semua orang sepakat kalau acara tanggal 21 Mei 2014 nanti jadi digelar, apapun hasilnya.


Dan akhirnya, malam PESTA RAKYAT BADEGA GUNUNG PARANG digelar tepat pada waktunya, tanpa kehadiran seorang Bupati Purwakarta dan aparat pemerintahan lainnya, kecuali Bapak Camat Tegalwaru.

Bapak Camat Tegalwaru membuka acara
Dengan penuh khidmat, acara dibuka dengan pembacaan Rajah oleh Ki Soun, salah seorang Badega Gunung Parang, yang sehari-hari menjaga situs makam Ki Pat Tinggi.

Hening dan khusuk pembacaan rajah dengan diiringi oleh dentuman Go'ong Tiup (sebuah terompet bambu). 
Bau dupa menyengat dengan tiupan angin yang menghentak tiba-tiba, menandakan alampun bersama kami menikmati acara ini.


Citra, sang penari Jaipong


Seni Kaulinan Anak yang sudah lama hilang di lingkar Gunung Parang
Dengan kekuatan yang tidak biasa, Citra, seorang penari jaipong dari KASUNDA, menghentakkan kakinya di tegalan sawah yang menjadi panggung alami malam ini. Seolah menghidupkan kembali legenda Nyi Ronggeng di kaki Gunung Parang.

Semua khusuk, semua bergembira, dan semua larut, bahkan alampun ikut hanyut dengan bintang gemintang yang bertaburan di angkasa.

Sebuah sejarah baru terukir di kaki Gunung Parang, sebuah seni dan budaya yang telah lama hilang kembali dihadirikan oleh Badega Gunung Parang dan Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) dari Rancaekek Bandung.


Padi dan Tumpeng menyimbolkan syukur atas rejeki yang diberikanNYA
Inilah persembahan yang paling indah dari Rakyat untuk Rakyat!