Selasa, 10 Juni 2014

Abah Ujo, Seorang Guru dan Seorang Sahabat dan Orang Tua


Nama lengkapnya sampai saat ini kami tidak pernah tahu, namun yang kami kenal adalah Pak Heru atau lebih dikenal Abah Ujo. Tapi bagi kami apalah arti sebuah nama bagi seorang sahabat, guru, orang tua seperti Abah Ujo.

Dan ketika pada akhirnya Allah Subhanna wata'ala memanggil, tibalah saatnya kami harus berpisah dengannya. Perkenalan yang cukup singkat saat Badega Gunung Parang diprakarsai dan digulirkan diseluruh lingkar gunung Parang.

Dengan semangat yang tidak mengenal lelah di usia yang sudah renta, dan guratan perjalanan hidup yang keras di belantara metropolitan dan kota-kota lainnya, serta coretan takdir dunia hitam yang melegenda di tahun delapan puluhan, membuat sosoknya begitu keras dan membuat takzim bagi yang baru mengenalnya.

Pertemuan kami dengan beliau seperti juga perpisahan kami, tidak pernah di duga sebelumnya. Semuanya serba cepat, saat kami baru saja mengenal dan mendukung satu sama lain dari beragama aspek dan sudut pandang tentang Badega Gunung Parang.

Ketika Badega Gunung Parang banyak di cecar dan di kritik oleh beragam pihak saat awal berdirinya karena tebaran informasi yang salah dan beragam kritikan, beliau dengan lantang dan berdiri tegak serta menantang arus  untuk mendukung kami habis-habisan. 
Dan kami diyakini bahwa inisiatif Badega Gunung Parang untuk meningkatkan ekonomi lingkar Gunung Parang bukanlah hal sia-sia, dan kelak semua orang akan mendukung kami, bahkan berlomba-lomba membuat wisata sejenis di lingkar Gunung Parang.


Beragam petuah dan nasehat dari seorang Sufi seperti beliau, seperti air mengalir di sungai. Tiada henti berurai setiap malam disaungnya atau di tempat kami, sampai subuh menjelang. Diskusi kecil tentang ilmu Falaq dan Tauhid terus berlanjut setiap malam tanpa henti dengan beliau.

Dan kehidupan memang rahasia serta milik sepenuhnya Illahi Rabb, manusia berencana dan DIA menentukan.
Banyak rencana yang kita bangun dari mimpi dan kenyataan saat bersama-sama Abah Ujo setiap malam, dan semua tidak berakhir begitu saja.
Kini kami harus berjuang kembali dengan semangat dan ketegaran yang dimiliki Abah Ujo.

Semoga Allah Subhannawata'ala, mengampuni dosa-dosanya dan menempatkan beliau bersama para pejuang jihad di SurgaNya yang tertinggi.

Selamat jalan kawan, sahabat, dan orang tua kami!

(Wafat: 5 Juni 2014)