Jumat, 13 Juni 2014

Selamat datang di Badega Gunung Parang

Kawasan Wisata Badega Gunung Parang

Sebuah wisata yang unik dan mungkin berbeda dengan tempat wisata lainnya.
Tempat wisata ini memang didesain khusus untuk orang-orang yang menyukai dunia petualangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Sawah berumpak yang banyak ditemui di kaki Gunung Parang

Perlu diperingatkan juga kepada anda, bahwa liburan disini tidak akan sama dengan liburan yang pernah dilakukan sebelumnya.
Jika anda ingin pergi ke suatu tempat yang spektakuler, ingin melihat lebih detail sesuatu yang berharga dan masih alami, ingin memiliki pengalaman berpetualang yang belum pernah dilakukan seumur hidup anda, maka disinilah tempatnya.

Welcome to Badega Gunung Parang

Badega Gunung Parang dimiliki dan dikelola oleh orang-orang kampung. 
Jadi jangan harapkan anda akan memperoleh layanan bintang lima, karena disini anda akan dilayani secara kampungan dalam artian yang sesungguhnya.

Anda bisa beraktifitas mulai dari berburu kuliner kampung, berkemah di alam terbuka, belajar menjadi petani sampai belajar panjat tebing. 
Semuanya ada disini.

Jika anda siap 'blangsak' (kata lain dari kami untuk berpetualang), maka disinilah tempatnya.

Selamat datang di Badega Gunung Parang !

Selasa, 10 Juni 2014

Abah Ujo, Seorang Guru dan Seorang Sahabat dan Orang Tua


Nama lengkapnya sampai saat ini kami tidak pernah tahu, namun yang kami kenal adalah Pak Heru atau lebih dikenal Abah Ujo. Tapi bagi kami apalah arti sebuah nama bagi seorang sahabat, guru, orang tua seperti Abah Ujo.

Dan ketika pada akhirnya Allah Subhanna wata'ala memanggil, tibalah saatnya kami harus berpisah dengannya. Perkenalan yang cukup singkat saat Badega Gunung Parang diprakarsai dan digulirkan diseluruh lingkar gunung Parang.

Dengan semangat yang tidak mengenal lelah di usia yang sudah renta, dan guratan perjalanan hidup yang keras di belantara metropolitan dan kota-kota lainnya, serta coretan takdir dunia hitam yang melegenda di tahun delapan puluhan, membuat sosoknya begitu keras dan membuat takzim bagi yang baru mengenalnya.

Pertemuan kami dengan beliau seperti juga perpisahan kami, tidak pernah di duga sebelumnya. Semuanya serba cepat, saat kami baru saja mengenal dan mendukung satu sama lain dari beragama aspek dan sudut pandang tentang Badega Gunung Parang.

Ketika Badega Gunung Parang banyak di cecar dan di kritik oleh beragam pihak saat awal berdirinya karena tebaran informasi yang salah dan beragam kritikan, beliau dengan lantang dan berdiri tegak serta menantang arus  untuk mendukung kami habis-habisan. 
Dan kami diyakini bahwa inisiatif Badega Gunung Parang untuk meningkatkan ekonomi lingkar Gunung Parang bukanlah hal sia-sia, dan kelak semua orang akan mendukung kami, bahkan berlomba-lomba membuat wisata sejenis di lingkar Gunung Parang.


Beragam petuah dan nasehat dari seorang Sufi seperti beliau, seperti air mengalir di sungai. Tiada henti berurai setiap malam disaungnya atau di tempat kami, sampai subuh menjelang. Diskusi kecil tentang ilmu Falaq dan Tauhid terus berlanjut setiap malam tanpa henti dengan beliau.

Dan kehidupan memang rahasia serta milik sepenuhnya Illahi Rabb, manusia berencana dan DIA menentukan.
Banyak rencana yang kita bangun dari mimpi dan kenyataan saat bersama-sama Abah Ujo setiap malam, dan semua tidak berakhir begitu saja.
Kini kami harus berjuang kembali dengan semangat dan ketegaran yang dimiliki Abah Ujo.

Semoga Allah Subhannawata'ala, mengampuni dosa-dosanya dan menempatkan beliau bersama para pejuang jihad di SurgaNya yang tertinggi.

Selamat jalan kawan, sahabat, dan orang tua kami!

(Wafat: 5 Juni 2014)




Kamis, 05 Juni 2014

Mengangkat Seni dan Budaya ditengah kritikan

Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, membuka acara Pesta Seni & Budaya, 28 Mei 2014

Tidak dipungkiri ketika ide acara ini digulirkan sudah menuai banyak kritikan, kecaman, dan ejekan, bahkan ada juga yang memuji.
Ki Soun membawa Tumpeng Ruwatan

Tapi pihak Badega Gunung Parang, bersikukuh bahwa acara Pesta Seni dan Budaya akan tetap digelar setelah Pesta Rakyat. Dan dalam satu bulan, Badega Gunung Parang menggelar berturut-turut dua kali acara berskala besar. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin jika dilihat dari sumber daya yang ada.

Namun, dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, akhirnya terlaksana sudah dua gelaran Pesta Seni dan Budaya di kaki Gunung Parang, yang pertama tanggal 21 Mei 2014, acara PESTA RAKYAT dan yang kedua tanggal 28 Mei 2014 acara PESTA SENI DAN BUDAYA.
Semuanya diselenggarakan sepenuhnya oleh pihak BADEGA GUNUNG PARANG, dan tentu saja dibantu penuh oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta serta Kampung Seni Urang Sunda - KASUNDA.


Ki Soun (Badega) dan Kang Deni (Kasunda) berdiskusi sebelum acara
Acara ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Seni dan Budaya Sunda, karena sepenuhnya acara semacam ini belum pernah digelar sama sekali di kaki Gunung Parang.
Bahkan beberapa seni dan budaya Sunda yang diangkat sudah tidak dikenal lagi oleh warga kampung sekitar Gunung Parang.  
Kang Yunus membawa Padi

Hampir satu bulan penuh Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) yang dipimpin oleh Kang Asep dan Kang Deni beserta krunya, bahu membahu bersama Badega Gunung Parang memperkenalkan seni dan budaya Sunda di kalangan warga.

Ditengah kecaman, cacian, dan bahkan makian beragam pihak, Badega Gunung Parang bersama KASUNDA terus menggulirkan ide kreatif ini di tengah warga kampung sekitar Gunung Parang, dan alhamdulillah akhirnya diterima dengan tulus ikhlas.

Sebuah perjuangan yang tidak mengenal lelah dan layaknya sebuah bibit Seni dan Budaya Sunda kini telah disebar di seluruh kaki Gunung Parang, dan tinggal menunggu panennya kelak, Semoga berbuah manis!


Tarian kreasi Bupati Purwakarta


Selasa, 03 Juni 2014

Sejarah baru telah diukir di Gunung Parang

Ki Soun membacakan Rajah
Rabu, tanggal 21 Mei 2014, adalah hari yang dinantikan oleh semua warga kampung Cihuni dan warga kampung lainnya yang ada dilingkar Gunung Parang. 


Inilah Pesta Rakyat 
Bagaiamana tidak ditunggu-tunggu, acara yang awalnya akan kita gelar sejak bulan Maret 2014, ternyata harus diundur beberapa kali karena jadwal Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH, sangat padat, sedangkan beliau berkeinginan sekali untuk menghadiri acara ini.
Beragam cibiran, kritikan, cacian, bahkan pertanyaan, menghujam kami di Badega Gunung Parang, tentang jadinya acara ini. Namun kami tetap berkeyakinan bahwa acara siap kami gelar dengan segala resiko dan 
kondisi yang terjadi nantinya.



Legenda Nyi Ronggeng seolah hadiri di malam ini
Beberapa warga kampung bahkan mempertanyakan apakah acara ini digelar atau tidak, begitu pula beberapa rekan media, kerabat, dan semua orang mengajukan pertanyaan yang sama.

Awalnya kami cukup gentar dengan pagelaran acara ini, karena disatu sisi kami hanya sebagai warga kampung biasa yang tidak memiliki dana cukup untuk gelaran akbar ini, hanya bermodal nekad dan keyakinan saja. 


Celempung dan Karinding turut dimainkan

Tapi disisi lain, rekan-rekan kami dari Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) mendukung kami untuk bahu membahu mempertajam ide dan kreatifitas bersama anak-anak kami dari mulai kampung Cihuni, Cikandang, dan Cisarua di Badega Gunung Parang.

Pagelaran akbar ini, tidak terlepas dari bantuan total dari pihak KASUNDA yang sudah sebulan penuh mempersiapkan acara ini tanpa memperhitungkan lagi waktu, tenaga, dan perasaan yang terbuang, semuanya totalitas untuk pengembangan seni dan budaya di lingkar Gunung Parang.
Kang Wawan, Ketua Badega Gunung Parang
Dan tibalah berita tanggal 16 Mei 2014, Jumat sore hari, ketika kita baru saja meeting dari Purwakarta. Salah seorang staf protokoler Bupati, mengabarkan kepada kami bahwa acara minta diundur kembali tanggal 28 Mei 2014, karena Bapak Bupati Purwakarta akan menghadiri acara lain.
Bagai disiram air ditengah gelegak api kreatifitas yang membara, pupus sudah harapan kami!

"Tuhan tidak tidur kok!", seru Mang Yunus, salah satu penggagas Badega Gunung Parang, "Kita teruskan saja, toh! semua sudah siap", tegasnya.
"Soal sound system apa adanya aja, kan acara tahun baru kemarin kita bisa".

Seperti sebuah teh manis di pagi buta, memberi semangat dan harapan untuk rekan-rekan KASUNDA dan anak-anak muda lainnya yang mempersiapkan acara ini.

Tanpa berpikir panjang lagi, semua orang sepakat kalau acara tanggal 21 Mei 2014 nanti jadi digelar, apapun hasilnya.


Dan akhirnya, malam PESTA RAKYAT BADEGA GUNUNG PARANG digelar tepat pada waktunya, tanpa kehadiran seorang Bupati Purwakarta dan aparat pemerintahan lainnya, kecuali Bapak Camat Tegalwaru.

Bapak Camat Tegalwaru membuka acara
Dengan penuh khidmat, acara dibuka dengan pembacaan Rajah oleh Ki Soun, salah seorang Badega Gunung Parang, yang sehari-hari menjaga situs makam Ki Pat Tinggi.

Hening dan khusuk pembacaan rajah dengan diiringi oleh dentuman Go'ong Tiup (sebuah terompet bambu). 
Bau dupa menyengat dengan tiupan angin yang menghentak tiba-tiba, menandakan alampun bersama kami menikmati acara ini.


Citra, sang penari Jaipong


Seni Kaulinan Anak yang sudah lama hilang di lingkar Gunung Parang
Dengan kekuatan yang tidak biasa, Citra, seorang penari jaipong dari KASUNDA, menghentakkan kakinya di tegalan sawah yang menjadi panggung alami malam ini. Seolah menghidupkan kembali legenda Nyi Ronggeng di kaki Gunung Parang.

Semua khusuk, semua bergembira, dan semua larut, bahkan alampun ikut hanyut dengan bintang gemintang yang bertaburan di angkasa.

Sebuah sejarah baru terukir di kaki Gunung Parang, sebuah seni dan budaya yang telah lama hilang kembali dihadirikan oleh Badega Gunung Parang dan Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) dari Rancaekek Bandung.


Padi dan Tumpeng menyimbolkan syukur atas rejeki yang diberikanNYA
Inilah persembahan yang paling indah dari Rakyat untuk Rakyat!