Kamis, 20 Maret 2014

Merintis Jalur Via Ferrata di Tower 3, Gunung Parang

Rencana Jalur Via Ferrata di Tower 3, Gunung Parang

Melihat perkembangan dunia panjat tebing yang semakin banyak orang awam ingin mencobanya, maka Badega Gunung Parang mengantisipasinya dengan mencoba sebuah rute baru di gunung Parang dengan menggunakan teknik VIA FERRATA.

Teknik ini sangat sederhana, dimana seorang pemanjat hanya mengaitkan 2 pasang karabiner ke sebuah kawat baja yang menempel di tebing dan mengikuti jalur yang sudah dibuat, sehingga kemungkinan untuk jatuhpun semakin kecil, serta faktor keselamatan semakin terjamin.

Hanya dibutuhkan 2 karabiner dan Lanyard untuk menikmati jalur ini


Diharapkan dengan dibukanya rute baru ini dapat menyerap beberapa tenaga kerja dan membuka ekonomi baru di sekitar Gunung Parang.

Rabu, 19 Maret 2014

Jalur sejuta umat di Tower 3


Rute Pemanjatan - Kopassus (Tower 3)
.
Ada beberapa jalur pemanjatan di Gunung Parang, tetapi ada satu jalur pemanjatan yang paling populer sampai saat ini yaitu di Tower 3, rute pemanjatan ini lebih dikenal sebagai jalur Kopassus.

Karena awalnya memang dirintis oleh Skygers bersama-sama TNI Kopassus, selanjutnya digunakan oleh mereka berlatih disini beberapa kali, sebelum akhirnya Pasukan Khusus TNI ini pindah ke Tower 2 untuk lokasi latihannya.

Dan sesuai dengan perkembangannya, jalur ini sempat direstorasi oleh beberapa pemanjat lainnya sampai dengan kondisi yang sekarang.

Sayang sekali hal ini tidak terdokumentasikan dengan baik sebelumnya, sehingga, pihak Badega Gunung Parang kesulitan siapa-siapa saja pihak yang membuat sampai dengan merestorasi jalur ini.

Sampai sekarang jalur ini relatif lebih ramai dikunjungi daripada jalur-jalur pemanjatan lainnya yang ada di sekitar Gunung Parang, karena relatif lebih dekat aksesnya dan lebih sesuai untuk para pemula belajar, meski tidak mudah untuk dipanjat.

Jalur Kopassus memiliki tingkat kesulitan bervariasi dari Grade 5.8 sampai dengan 5.11 di beberapa etape pemanjatan.
Dengan jumlah teras (pitch) 8 sampai dengan 9 jika ingin diteruskan ke puncak Tower 3.
Namun biasanya para pemanjat menyelesaikan pemanjatan pada teras ke 7 karena selebihnya harus memanjat semak belukar.


Tipe Jalur Sport

Jalur ini sudah terpasang bor pengaman dari bawah sampai atas dengan kondisi beberapa di pitch 3 ke atas sudah sedikit berkarat, namun masih bisa dipakai sebagai pengaman. 
Kedepannya akan segera direstorasi oleh pihak Badega Gunung Parang untuk meningkatkan faktor keselamatan pemanjatan nantinya.
Dengan bor yang terpasang dari bawah sampai atas, jalur ini bisa dikategorikan jalur sport. 
Namun tidak menutup kemungkinan, di beberapa titik jika pemanjat ragu bisa menggantikannya dengan alat pengaman pegas (Friend / Cam) atau paku (piton).



Jalur Panjat ke Teras 1
Di awali dengan celah memanjang tegak lurus ke atas, pemanjatan dilakukan. Di etape ini pemanjat banyak menggunakan teknik menjejal tangan dan kaki pada celah tersebut. Dan teknik ini berakhir sampai pada teras pertama.


Teras Kedua - Ketiga

Dari teras kedua, pemanjat dapat melanjutkan pemanjatan dengan memanfaatkan beberapa rekahan maupun tonjolan yang cukup banyak.
Kemiringan dinding sekitar 60' - 70 dengan Grade sekitar 5.9,  cukup mudah dilalui jika pemanjat dapat memanfaatkan keseimbangan disini.
Sampai akhirnya pemanjat dapat beristirahat di teras kedua.


Jalur Panjat ke Teras 2



Jalur Air Terjun


Pada etape teras kedua dan ketiga pemanjat tidak akan menemukan kesulitan yang berarti, karena pengaman bor cukup banyak. Dan tingkat kesulitan masih berkisar di 5.9, relatif tidak begitu sulit bagi para pemula.

Namun memasuki etape teras ketiga dan keempat, pemanjat akan menemui sedikit kesulitan (Crux) di bagian celah besar.
Karena pada rute ini jika hujan turun menjadi air terjun mini, dan cukup merepotkan jika harus memanjatnya.
Jalur Panjat ke Teras 3

Jalur Panjat ke Teras 4
Namun jika cuaca cerah, jalur ini juga tidak kalah menyulitkan karena pegangannya yang minim, dan jika ingin mudah dapat melalui celah yang besarnya tubuh orang dewasa. 

Di teras keempat, pemanjatan dilanjutkan dengan berpindah (traverse) ke kiri, menyusur celah dibawah dinding menggantung (overhang) dan menjumpai selanjutnya teras kelima yang jaraknya hanya sepuluh meter.




Bolt to Bolt

Pemanjatan dari teras kelima dan keenam, dilanjutkan dengan teknik pemanjatan menggunakan alat / tangga (aid climbing), karena pemanjat harus melaluinya dengan mengaitkan tangga dari hanger satu ke hangar lainnya sampai mencapai teras keenam.

Jalur ini lebih dikenal dengan jalur 'bor tu bor' (bolt to bolt). 


Jalur Panjat ke Teras 6

Di teras ke enam, pemanjatan bisa dilanjutkan dengan melalui celah yang banyak ditumbuhi semak belukar, dan selanjutnya bisa bermalam dibawah ceruk batu jika ingin bermalam diatas sana, untuk melanjutkan pemanjatan dihari berikutnya, atau bisa langsung turun lagi ke bawah.


Semua tergantung keputusan dan kondisi fisik masing-masing pemanjat.






Cuaca terbaik

Adalah bulan Juni - September, cuaca terbaik untuk memanjat di Gunung Parang.
Mengingat di luar bulan-bulan itu, hujan akan sangat mengganggu pemanjatan, karena menyebabkan batuan andesit ini sangat licin.

Dan disarankan jika memanjat di musim panas, para pemanjat untuk membawa air yang banyak karena akan lebih mudah terserang dehidrasi.


Jalur Panjat ke Teras 7






Pengaman lainnya

Disarankan untuk membawa pengamanan cadangan seperti pengaman pegas (friend / cam) atau pengaman paku (piton), atau pengaman penjejal (chockstone), jika ingin memanjat rute pemanjatan lainnya.

Untuk keselamatan, disarankan juga membawa bor (Rockpack / Hand Drill) dengan beberapa mata bor dan penggantung (hanger).






Jangan tinggalkan sampah

Untuk para pemanjat yang memanjat di Gunung Parang, disarankan untuk membawa sampah-sampahnya kembali turun. 
Hal ini untuk menjaga kelestarian dan kebersihan tebing Gunung Parang agar bisa dinikmati para pemanjat berikutnya.


Informasi

Silahkan menghubungi pihak Badega Gunung Parang (+62 8787 4708230)  jika ada pertanyaan, klarifikasi, dan konfirmasi atas jalur ini.

Rabu, 12 Maret 2014

Badega Gunung Parang menjadi benteng terakhir di Gunung Parang



Tidak banyak yang mengira, ternyata di dekat Purwakarta, sebuah gunung batu andesit raksasa berada. Gunung yang lebih dikenal dengan nama Gunung Parang, memiliki ketinggian sekitar 900 meter dari permukaan laut.

Gunung batu ini awalnya dikenal di kalangan para pemanjat tebing sejak era tahun 1980-an, dan disamping itu gunung ini juga dikenal di kalangan para peziarah situs-situs bersejarah yang banyak bertebaran di sekitar gunung Parang.
Sebutlah situs makam Nyi Rongge, situs Ki Pat Tinggi, situs Guha Belanda, dan masih banyak situs-situs lainnya yang belum teridentifikasi lebih lanjut sampai sekarang.

Belum lagi hutan yang bertebaran di kaki Gunug Parang, merupakan miniatur hutan tropis yang bermukim ratusan spesies binatang dan tanaman yang sebagian besar adalah dilindungi, seperti Elang Jawa.

Adalah sebuah langkah yang bijak dan tepat, jika inisiatif warga kampung Cihuni yang tergabung dalam Badega Gunung Parang, mencoba menjaga dan melindungi keberadaan Gunung Parang ditengah kondisi penambangan batu yang banyak bertaburan disekitarnya.

Kini hanya tinggallah waktu yang menentukan, apakah Badega Gunung Parang, sebagai benteng terakhir keberadaan Gunung Parang, dapat mempertahankan keberadaan dan kelangsungan hidup beragam spesies, situs bersejarah, seni dan budaya sunda, dan arena panjat tebing terbesar di Indonesia tersebut.

Hanya waktu nanti yang berbicara. 









Jumat, 07 Maret 2014

Lupakan basa-basi ala hotel atau resort di Badega Gunung Parang!

Bale Ngaso di Badega Gunung Parang
Jika ke Purwakarta, maka sempatkanlah main ke Badega Gunung Parang, sebuah tempat eksotis di kaki Gunung Parang, tepatnya di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.
Sekitar 18 km dari pusat kota Purwakarta, atau 3 jam dari Jakarta.

Disini anda dapat menemui sebuah keunikan wisata alam dan petualangan untuk berbagai umur, mulai panjat tebing, trekking ke hutan dan gunung, menjelajah kampung, bermain di sawah dengan kerbau, atau mungkin hanya sekedar beristirahat minum kopi dan makan pisang goreng sambil memandang dinding Gunung Parang yang menjulang ke langit.

Lupakan basa-basi ala hotel atau resort, disini anda tidak akan menemui hal itu.
Anda akan menjumpai keramahan ala kampung, bahkan kampungan sekali serta ala kadarnya, jadi anggaplah anda pulang kampung ke rumah kakek atau nenek.

Nah selamat berpetualang !


Kamis, 06 Maret 2014

Ngarumat Gunung Parang 2014, Awal sebuah mimpi

Ngarumat Gunung Parang, sebuah festival seni dan budaya sunda di Gunung Parang


Awalnya hanya sebuah mimpi ingin membuat sebuah acara di Gunung Parang. 

Namun dari beberapa diskusi dan candaan kecil dengan grup karinding KASUNDA (Kampung Seni Urang Sunda) yang dipimping Kang Asep, dan akhirnya membuncah dengan beberapa rekan penggiat budaya Sunda seperti Kang Riki Priatna dan Abah Dedi, sampai pada akhirnya dengan beberapa rekan-rekan yang lain seperti Kang Dicky, Kang Wawan, Teh Kanaya
Mimpi ini sedikit demi sedikit mulai menampakkan wujudnya, seperti sebuah bola salju kecil yang menggelinding dari atas puncak gunung, dan semakin menjadi bola salju raksasa.

Foto Bersama Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, di kediaman dinas setelah berdiskusi kecil untuk acara Ngarumat Gunung Parang 2014

Ditambah lagi saat Badega Gunung Parang, yang diwakili oleh Kang Wawan, Apih Yunus, Kang Muhi, Mang Kartolo, bertemu dengan Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, pada Selasa, 4 Maret 2014 di kediaman dinasnya untuk melaporkan perkembangan kemajuan Badega Gunung Parang.

Disana kami sempat berdiskusi kecil dengan Bapak Dedi tentang sebuah acara mengangkat seni dan budaya Sunda yang hilang, dan ada akhirnya beliau memutuskan untuk mendukung acara ini dan sekaligus dijadwalkan sekaligus pada tanggal 11 April 2014, yang insyaallah akan dihadiri beliau langsung. 
Dalam hati kami, ini benar-benar sebuah berkah dari Allah SWT di awal Maret 2014 untuk Badega Gunung Parang, dimana seorang Pemimpin Daerah menerima kami dari Kampung dan akhirnya mendukung acara ini sepenuhnya, dan disaat kami harus berjuang mati-matian untuk penyelenggaraan acara ini.

Dan persiapanpun dimulai, sekaligus kami harus segera bangun dari mimpi ini untuk segera mewujudkannya.

Jadi jangan pernah takut bermimpi, meski kita bukan siapa-siapa!