Selasa, 23 Desember 2014

Bangga jadi orang Purwakarta

Sebuah kebanggaan tersendiri jika anak-anak muda dari SMA Negeri 3 Sukatani, mengatakan mereka bangga memiliki Badega Gunung Parang sebagai tempat wisata yang berbeda di Purwakarta.

Berlatih di alam bersama SMA Negeri 3 Sukatani

Ditambah lagi mereka bisa berinteraksi dengan tamu-tamu internasional lainnya yang menginap di Badega Gunung Parang
Selain belajar di alam, mereka juga bisa belajar mengasah kemampuan bahasa inggrisnya disini dengan tamu-tamu lainnya.
Sebuah persahabatan antar bangsa pun terjalin dengan hangat disini, tidak membedakan suku, agama, ras, dan asal.

Semua melebur dalam kehangatan khas Badega Gunung Parang

Persahabatan antar bangsa terjalin dengan hangat disini

Jangan berwisata ke Badega Gunung Parang, BAHAYA !

Jika anda pernah mendengan kalimat di atas, memang benar adanya !

Disini anda jangan berharap lebih dan mendapati pelayanan memuaskan dari kami, disini anda jangan meminta sesuatu yang umum dijumpai atau tersedia di tempat wisata-wisata lainnya.

Lupakan itu semua !

Jamie dan kawan-kawan ketika berkunjung ke Badega Gunung Parang


Di Badega Gunung Parang, anda kami ajak keluar dari zona nyaman berwisata, dan menemukan sesuatu yang hilang dari hidup anda, yaitu PETUALANGAN !!!

Jika anda berpikir ini bukan tempat wisata yang layak, memang benar adanya !

Sebastian dan rombongan setelah pembuatan film panjat tebing


Karena kami tidak menyediakan kelayakan ataupun kenyamanan, tetapi kami mengajak anda untuk belajar tentang alam dengan segala kelebihannya dan manusia dengan segala kekurangannya.

Lihatlah diri anda, apakah anda siap kemari ?

Sebuah tantangan menanti anda disini

Emil dan kawan-kawan, setelah belajar panjat tebing di Badega Gunung Parang

Senin, 22 Desember 2014

Belajar dan Bermain di Alam

SMK Negeri 3 Sukatani
Belajar di alam, sudah bukan lagi sebuah ekstra kurikuler, tetapi sebuah kebutuhan dalam mendidik para siswa untuk lebih mengenal alam sekitarnya.
Demikian yang dilakukan oleh para Siswa SMK Negeri 3 Sukatani, mereka menghabiskan waktu akhir pekannya di Badega Gunung Parang untuk belajar dan bermain.

Rabu, 17 Desember 2014

Perjalanan Badega Gunung Parang (Bagian Kedua)

Badega Gunung Parang

Hari ini, tepat tanggal 17 Desember 2014, Badega Gunung Parang berusia 1 tahun, sebuah perspektif baru untuk sebuah gerakan kepedulian untuk sebuah Gunung dan kehidupan yang lebih baik telah muncul.

Perjalanan ini masih panjang, tetapi beragam kisah telah lahir seperti sebuah bayi yang terlalu cepat untuk dilahirkan. 

Dan ini menjadi takdir bagi kita semua di Badega Gunung Parang, bahwa membangun sebuah rumah dari sebuah mimpi adalah tidaklah mudah, perlu perjuangan dan bahkan pengorbanan.

Tidak ada cerita bahwa Gunung Parang akan menjadi bongkahan gunung emas, dengan kita hanya berdiam dan menyombongkan diri, tanpa kita mampu menyepuhnya.
Dan hanya bualan belaka bahwa kita adalah pembuat sejarah disini, tanpa kita meneruskan dan mewujudkan sejarah itu.

Mimpi besar lahir dari sebuah pikiran dan ide gila, dan untuk mewujudkannya adalah sebuah perjuangan di lautan kesabaran yang tiada akhir.

Tidak mudah dan tidak sulit, hanya dibutuhkan keyakinan !


Alam menunjukkan jalannya


Alam telah memilih dengan sendirinya, Alam telah menunjukkan jalannya kepada kita semua.

Tanpa kita sadari kita melangkah dituntun melalui arah yang telah ditentukan, tanpa kita pahami awalnya mengapa kita harus melakukannya dalam membangun Badega Gunung Parang.

Dan di akhir barulah kita memahami semua proses itu, dan tanpa perlu lagi kita memperdebatkannya.
Alam memang menuntun kita dengan indah dalam berproses membangun Badega Gunung Parang.


Bale Semah di Badega Gunung Parang

Zona demi zona mulai dibuka di kaki Gunung Parang, masalah demi masalah datang silih berganti, seolah sebuah proses.
Dan di akhir waktu, zona yang telah dibuka kembali ditutup, karena memang tidak layak untuk dibuka.

Awalnya kita tidak paham mengapa zona yang sudah dibuka harus ditutup, tetapi dengan berprosesnya waktu, barulah kita memahaminya.

Alam telah menunjukkan jalannya.


Satu Tumbang Satu Tumbuh !


Bagai sebuah bunga di alam liar, satu berguguran di telan musim, dan bibit baru tumbuh di pucuk musim.
Inilah sebuah proses regenerasi alami yang terjadi di Badega Gunung Parang, tanpa harus kita turut campur didalamnya.

Biarkan bunga yang sudah layu dan pohon yang mati tumbang dengan sendirinya, dan bibit-bibit bunga dan tanaman yang segar bermunculan, karena alam sudah mengaturnya.



Bunga Semusim, Bunga Bakung

Kita tidak pernah memusingkan sebuah generasi akan hilang dengan sendiri, karena ketidaksabaran dan egonya masing-masing.
Tapi kita akan pusing jika sebuah generasi tumbuh tanpa memiliki rasa dan asa untuk hidup lebih baik.

Sekali lagi, satu tumbang maka satu tumbuh !

Sebuah Perspektif Baru


Tanpa harus meminta, tanpa harus menangis, proses pembangunan Badega Gunung Parang terus berjalan meski tertatih-tatih.

Bukannya tidak meminta dan memohon, semua sudah berjalan dan berproses, dan beragam cara sudah dilakukan dengan sengaja dan tidak disengaja, tapi yang ada adalah sebuah harapan di ruang kosong.

Seperti rayap membangun rumahnya, sedikit demi sedikit Badega Gunung Parang terus membentuk zona demi zona di kaki Gunung Parang sampai dengan puncaknya.
Semua dilakukan untuk melindungi Gunung Parang dari perambahan hutan dan perburuan liar satwanya, dan Badega Gunung Parang hanya memanfaatkan kecantikan Gunung Parang!

Jangan ditanya, berapa banyak dokumen dan rancang bangun beragam zona di Badega Gunung Parang yang sudah dibuat dan direncanakan, mungkin saat ini sudah masuk ke halaman ke seribu !
Semua lengkap dan mungkin lebih lengkap dari sebuah proyek pembangkit listrik. Hah?

Ilmu rayap kita gunakan untuk melangkah dan membangun.
Tidak ada yang tidak mungkin, semua berjalan dengan perlahan tapi pasti.

Dan sebuah perspektif sebuah wisata baru telah lahir !

Baca juga Bagian Pertama




Rabu, 10 Desember 2014

Akhir Dari Perjalanan Keliling Dunia

Sabrina, Tower 3, Mt. Parang


Siapa mengira jauh-jauh dari Jerman dan bekerja di Australia, dan pada akhirnya berlabuh di Badega Gunung Parang untuk mengakhiri perjalanan keliling dunianya di tahun 2014.
Seorang gadis, cantik dan masih muda, 23 tahun, namanya Sabrina, membuat sebuah kejutan dan warna baru di tempat kami, dalam beberapa minggu dia tinggal disini.

Sabrina on Pitch 3, Mt. Parang, Badega Gunung Parang, Indonesia

Dimulai dari kedatangannya yang tiba-tiba tanpa ada informasi sama sekali, dan terdampar di Stasiun Kereta Api, Bandung, dan kesasar di Wanayasa setibanya di Purwakarta.
Beruntung sekali, dia diantar oleh Petugas Keamanan Stasiun Kereta Api Purwakarta yang baik hati sampai di tempat kami dengan selamat.

Awalnya dia mengungkapkan ingin memanjat Gunung Parang, namun membawa peralatan yang minim serta seorang diri, dan hanya tinggal beberapa hari di Badega Gunung Parang.
Setelah mengisi formulir pendaftaran tamu, kami menyarankan dia untuk beristirahat dan melupakan kesulitan yang dia tempuh beberapa hari ini selama di Indonesia.

Mushroom Park, once in a year, she is really lucky.

Hari demi hari dilalui di Badega Gunung dengan memanjat dan hanya memanjat ditemani oleh guide kami. Dan hanya beberapa hari libur digunakan untuk jalan-jalan bersama kami ke Garut dan Bandung sekedar melepas lelah dan rutinitas memanjat.
Namun sekali lagi, gadis ini tampaknya lebih suka menyendiri di Badega Gunung Parang dan asyik dalam dekapan alam Gunung Parang.

Dan Sabrina memang membawa warna tersendiri bagi kami dan semua orang, termasuk rekan-rekan dari KOPASUS yang sedang berlatih di Gunung Parang.
Sepertinya tidak ada batasan lagi antara dia sebagai tamu dan kami disini, semua bergembira bersama di malam perpisahan rekan-rekan KOPASUS, dan Sabrina adalah bintangnya !

She is a Star !

Tidak terasa, waktupun cepat berlalu, sudah hampir dua minggu, dan Sabrina harus kembali ke Jerman karena visa kunjungannya akan habis dua hari lagi, dan kamipun mengantarnya kembali ke Stasiun Bandung untuk membeli beberapa oleh-oleh dan langsung bertolak ke Jakarta menggunakan kereta api.
Dan mengakhiri perjalanannya keliling dunia di tahun 2014.

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, namun di hati kami, Sabrina seorang gadis muda Jerman, memberikan perspektif baru kepada kami tentang sebuah ikatan persahabatan yang tulus, bukan hanya sekedar tamu.

Selamat jalan, sampaikan salam kami kepada keluarga di rumah !

Auf Wiedersehen !

Minggu, 16 November 2014

November Adalah Bulan Bunga Bakung

Bunga Bakung (Lily)


Anda akan menemukan sebuah pemandangan yang berbeda setiap bulan November di sekitar Gunung Parang. 
Di bulan ini, setiap sudut Gunung Parang akan dihiasi oleh Bunga Bakung (Liliaceae) dalam bahasa Inggris disebut Lily,  yang sedang bermekaran indah.
Bunga yang berwarna oranye dan mengeluarkan bau yang harum, sepertinya kompak untuk bermekaran pada saat yang sama di bulan November.

Bunga Bakung di Badega Gunung Parang

Bunga Bakung bermekaran di Badega Gunung Parang

Awalnya kami tidak mengira bunga ini akan bermekaran dalam waktu yang bersamaan, tetapi dari uji coba tanam yang dilakukan satu tahun kemarin akhirnya berbuah hasil. Dan kini bunga ini bisa dinikmati di Badega Gunung Parang.
Kedepannya setiap tahun, kami akan mengadakan Festival Bunga Bakung di sekitar Gunung Parang, dan diharapkan festival ini akan menjadi daya tarik sendiri wisatawan untuk berkunjung ke Badega Gunung Parang di Purwakarta.

Datanglah di bulan November, dan anda akan disambut Bunga Bakung !

Festival Bunga Bakung di Badega Gunung Parang

Kamis, 13 November 2014

Repotnya membuat film tentang panjat tebing

Tidak terbayangkan sebelumnya kedatangan rombongan dari Perancis untuk memanjat dan membuat film tentang panjat tebing di Gunung Parang.
Awalnya banyak sekali permintaan dan pertanyaan yang harus direspon, namun akhirnya kami bisa mengatasinya.


Betapa repotnya membuat film di atas dinding Gunung Parang

Dan rombongan yang dipimpin oleh Bastien akhirnya tiba di Badega Gunung Parang, dan beberapa orang lagi baru tiba malamnya.
Rombongan yang tiba pagi hari sudah langsung menuju kaki dinding Gunung Parang setelah mereka membongkar semua peralatan yang dibawa, sebagian peralatan lagi mereka menyewa dari kami.


Camera "ACTION !"

Diskusi demi diskusi kecil dilakukan untuk pemanjatan yang sempurna, dan sungguh suatu pelajaran buat kita disini, apapun langkah yang dilakukan harus dipikirkan matang-matang.
Kerepotan demi kerepotan yang timbul di atas tebing, tidak membuat mereka panik, namun tetap tenang.
Ini terjadi ketika mereka tidak membawa 'head lamp' ketika hari sudah mulai gelap, mereka menggantinya dengan lampu 'blitz / speed light' kamera kecil untuk mengecek ulang peralatan panjat sebelum mereka turun.


Memulai pemanjatan

Malamnya rombongan dari Perancis ini menikmati nasi liwet dan makanan kampung yang disajikan, dan satu persatu mengucap selamat malam untuk beranjak ke peraduan.



Bienvenue mon ami au Badega Gunung Parang

Welcome to Badega Gunung Parang !

RockParty at Mount Parang


If you love climbing, so Mount Parang at Purwakarta, Indonesia, is one of the Bigwall at Asia that you should try it.
You will find out more slab, crag, and small grip and pocket on face during climbing there. Various routes and grades will be found here, starting from 5.8 (5) to 5.14 (9), all in one bigwall.
Or if you have more time, you can spending there for open new route or more, it's yours!

Let's pack and go here !

So, what you waiting for, let's pack and go here!

Sabtu, 01 November 2014

私たちの家へようこそ

Welcome to Badega Gunung Parang for Yamaki-San and Friends,

Jauh-jauh dari negara Jepang, mencoba pengalaman baru di dinding Gunung Parang dan tanpa kenal usia mereka menghabiskan akhir pekannya di Tower 2 dan Tower 3.
Benar-benar gila, dan patut ditiru semangat juang mereka masing-masing.

Di akhir hari, mereka mencoba untuk merasakan buah asli orang sunda, Jengkol!
Di makan mentah dan beragam ekspresi dan ungkapan keluar, dan tidak dinyana, ternyata mereka menyukainya.

Apapun alasan dan tujuan anda, kami menghaturkan terima kasih telah berkunjung di Badega Gunung Parang.

Yamaki-san and Friends

Their Package so simple

Trying sundanese fruit is 'Jengkol'

Playing 'Egrang', a sundanese kid toy



Perjalanan Badega Gunung Parang (Bagian Pembuka)

Jika bertutur tentang Badega Gunung Parang, kita bertutur tentang keikhlasan dan kesabaran untuk sebuah gunung batu terbesar di Asia Tenggara.

Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH

Beragam perjalanan hidup ada disini mulai dari petani, pengangguran, pekerja non formal ataupun profesional, mantan preman, sopir truk, buruh pabrik, pejabat, pensiunan semua dengan satu tujuan!

Menjaga dan dijaga Gunung Parang untuk masa depan kelak, bukan untuk hari ini tetapi untuk masa depan.

Disini beragam profesi dan latar belakang berkumbul mengolah rasa dan asa di Badega Gunung Parang

Ini bukan tempat wisata yang sekedarnya, ini tentang sebuah akumulasi perjalanan puluhan tahun bahkan ratusan tahun, yang akhirnya membuncah di akhir tahun 2013. Dan jika dihitung oleh para leluhur tahun itu berjumlah 5 (lima) sesuai dengan shalat 5 (lima) waktu yang menjadi pilar dasar agama Islam.

Dan amanah pun di emban dengan keikhlasan dan kesabaran

Di Badega Gunung Parang, semua orang terus belajar tentang kehidupan dan budaya yang berkelanjutan, mengolah rasa dan asa, menyatukan jiwa dengan seluruh isi alam dan pemilik Nya.
Dan akhirnya hanya tinggal memilih sisi hitam atau sisi putih, sudah tidak ada lagi abu-abu disini, karena para leluhur sudah memilihkannya untuk kita disini, memilih masa depan masing-masing.

Ketika Amanah diemban, maka seluruh konsekuensinyapun di tanggung

Ketika ramalan para leluhur satu persatu mulai membuncah, dan seluruh 'Dangiang' bersimpuh kembali di Gunung Parang, maka kesabaran dan keikhlasan kembali diuji pada titik nadir para Badega Gunung Parang.

Suka atau tidak suka, kita menerima dan mengemban amanah para leluhur dan para dangiang yang ada disini untuk menjaga dan dijaga Gunung Parang, dalam pertempuran hawa nafsu duniawi yang tiada habis.

Dari yang tua dan yang muda menyatukan asa dan rasa di Badega Gunung Parang

Tidak dapat dipungkiri, ketika Badega Gunung Parang mulai membuka tirai kelambu penutup Gunung Parang ke seluruh dunia, beragam konsekuensipun mau tidak mau harus siap ditanggung.
Beragam penyakit hati dari yang positif sampai dengan yang negatif, menghujam lurus ke arah para Badega.

Namun dibalik semua ini, ada sisi lain yaitu Gunung Parang mulai menjejakkan pengaruhnya di bumi dan mengenalkan dirinya ke pentas dunia, dan mulailah menarik para pemerhati yang sebelumnya tidak pernah memikirkannya.

Bersama-sama Mengantar Gunung Parang ke pentas dunia

Orang dari beragam pelosok menghampirinya, ada yang berniat baik dan tulus, ada yang berniat mengeksploitasinya, ada yang berniat menggagahinya, semua nafsu duniawi mengitari Gunung Parang, seperti semut yang mengitari gula, sungguh manis.

Menjaga dan Dijaga oleh Gunung Parang (kutipan wejangan H. Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta)

Namun kami dengan kerendahan hati dan jiwa selalu berdoa atas nikmat dan amanah yang harus diemban ini.
Berat memang, tetapi harus kami tanggung semua konsekuensinya, baik pahit ataupun manis.
Karena sesungguhnya Gunung Parang akan memilih, bukan untuk dipilih, yang terbaik untuk anak cucu kita di masa depan.

Bale Semah tempat berkumpul para Badega Gunung Parang

Dan di Badega Gunung Parang semua hawa nafsu, keserakahan, emosi, ditanggalkan, dan kita telanjang dalam lautan rasa dan asa.

Babak baru tentang perjalanan kita pun dimulai

Jumat, 24 Oktober 2014

Laboratorium Bebatuan di Gunung Parang

Situs Batu Belang di lokasi Badega Gunung Parang
Alam memang memang memiliki rahasianya sendiri di Gunung Parang.
Jika datang kemari, cobalah tengok bebatuan yang ada di sekitar sini. Dijamin, anda akan dibuat takjub oleh keindahnnya.

Coba lihat situs "Batu Belang" sebuah batu raksasa yang ada disekitar Badega Gunung Parang, coba bayangkan bagaimana batu ini bisa berada di atas sawah dengan beberapa batu-batu besar lainnya. Dan nun jauh disana, Gunung Parang menjulang tinggi seperti menggapai langit.

Proses Pembentukan Tanah Lempung Menjadi Batu 

Beberapa bebatuan yang tampak saja sudah spektakuler, bagaimana bebatuan yang terpendam dalam bumi.
Lihatlah beberapa bebatuan yang ditemukan dari dasar tanah ketika melakukan pengerukan untuk pembuatan kolam di lokasi Badega Gunung Parang, disini ditemukan beberapa bebatuan alami yang unik dan bentuknya aneh-aneh.
Proses pengerasan tanah liat menjadi batu dapat dilihat disini, sebuah laboratorium raksasa jika kita mau belajar dan menelitinya lebih lanjut.

Lapis demi lapis tanah liat yang sudah berubah bentuk menjadi batu, dapat saling membungkus satu sama lain seperti kue lapis dan akhirnya menjadi batu utuh yang keras.
Sebuah proses alam yang hanya dapat terjadi pada ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu.

Situs Batu Belang, ratusan batu besar ada disini


Pantaslah Gunung Parang dijadikan laboratorium bebatuan untuk kedepannya.

Minggu, 12 Oktober 2014

From Singapore to Badega With Love

Cuaca musim kemarau tidak menyurutkan tamu kita, pasangan dari Singapura dan Amerika, yaitu Linda dan Eric yang jauh-jauh datang dari Singapura ke Badega Gunung Parang. Tujuan mereka hanya satu, memanjat dan memanjat 

Linda on T2 Mount Parang

Dari seminggu yang lalu mereka sudah meminta lewat email kepada kita untuk menjemput di salah satu hotel di Jakarta, dan ketika pagi itu kita menjemputnya, tampaknya mereka sudah benar-benar siap untuk "Blangsak" (kata lain dari kita untuk berpetualang habis-habisan) di Gunung Parang.

Hari pertama dilalui oleh mereka dengan melahap jalur pemanjatan di Tower 3, dan sungguh diluar dugaan, ternyata mereka benar-benar menyukai alam Gunung Parang, meski di musim kemarau ini dan tidak banyak menyuguhkan pemandangan yang hijau, tetapi tetap spektakuler.

Linda & Eric, from Singapore to Badega with love

Dan di hari berikutnya, mereka mencoba untuk memanjat di jalur pemanjatan Tower 2, dan kedua sejoli ini tampak asyik menikmati pemanjatan di atas sana.

Ketika ditanya kenapa jauh-jauh mau datang kemari? Mereka menjawab ingin mendapat sensasi lain memanjat sebuah gunung batu yang terbesar di Indonesia ini. Dan selain itu gunung batu seperti ini hanya ada di Amerika ataupun Eropa, tetapi tidak di Asia.
Jadi mereka cukup bangga sudah bisa memanjat Gunung Parang, yang menjadi ikon dunia panjat tebing di Indonesia.

Linda moving on Tower 2 Mount Parang

Tanpa disadari, waktu untuk pulang sudah tiba. Dan saatnya kami harus kembali berpisah dengan tamu kita.
Sampai jumpa lagi di lain waktu Linda dan Eric, semoga kalian puas selama disini dan terus mencintai sampai akhir hayat !

Kamis, 02 Oktober 2014

Belajar Di Alam Liar Gunung Parang

Untuk kesekian kalinya Badega Gunung Parang kedatangan tamu anak-anak muda, kali ini dari SMK AL FALAH Jakarta.
Mereka bukan sekedar berlibur, kali ini mereka datang untuk belajar dan berlatih bersama dalam program Management By Nature yang memang khusus didesain oleh Badega Gunung Parang.

Peserta yang berjumlah 120 orang ini, selama dua hari satu malam, ber "blangsak" ria (istilah kami untuk berpetualang habis-habisan) di kaki Gunung Parang.

Sungguh diluar dugaan, anak-anak muda kota besar Jakarta, yang notabene berada dalam kemapanan dan selalu dekat dengan beragam gadget, kini harus kembali dengan keterbatasan ke dasar bersama alam, dan ternyata mereka menyukainya!

Program Management By Nature yang dilakukan lebih mengasah anak-anak muda ini menggunakan imajinasi dalam setiap mengambil keputusan dan bekerjasama dalam segala keterbatasan kondisi dan lingkungan disini.
Sehingga kreatifitas diperas habis-habisan disini.

Alam Gunung Parang pun turut melatih mereka dengan kerasnya, pasokan air yang terbatas tidak menyurutkan mereka terus beraktifitas.
Semua diambil hikmahnya, karena setiap tindakan ada pembelajaran.

Program ini bukan sekedar program 'outbond' yang biasa diselenggarakan, tapi terselip disana sebuah harapan di masa depan anak-anak muda ini memiliki setitik dasar untuk berani menghadapi hidup dan harus lebih dari sekedarnya dengan menggunakan imajinasi tanpa batas.

Rabu, 03 September 2014

Dari Itali hanya untuk Gunung Parang

Giacommo on Mt Parang

Sebuah email terlihat di kotak masuk dengan judul subyek yang cukup aneh, awalnya dikira email SPAM, ternyata email dari seorang yang bernama Giacommo Vioretti dari Itali yang menanyakan tentang Gunung Parang.

Singkat kata, korespondensipun berlangsung antara kami dengan teman baru dari Itali ini, Giacommo, yang ingn berkunjung ke Gunung Parang dan memanjatnya, namun sayangnya semua peralatannya tertinggal dinegaranya, dan dia saat ini berada di Singapura untuk transit, dia ingin mencari penyewaan alat panjat tebing di Indonesia.
Hal yang tidak terlalu sulit untuk kami penuhi, karena Badega Gunung Parang memiliki beberapa set peralatan panjat tebing dari ‘hibah’ beberapa pemanjat, dan sengaja untuk disewakan.

Tepat pada waktunya, kami menjemput Giacommo langsung dari Bandara Internasional Cengkareng. Betapa terkejutnya kami, karena tidak menyangka Giacommo adalah seorang yang jauh dari postur pemanjat yang biasanya berdandan berantakan, namun dia sangat rapih seperti eksekutif muda. Dengan sopan kami menyapanya, dan langsung membawanya menembus kemacetan Jakarta langsung ke Badega Gunung Parang di Purwakarta.

Pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi ala kampung, dia terlihat semangat meminta salah satu guide panjat tebing kami untuk menemaninya memanjat dinding tower 3, dan terlihat diatas sana mereka berdua sangat menikmati pemanjatan hari ini.

Malampun menjelang, setelah makan malam dengan nasi liwet yang hangat, tamu kami yang cukup ganteng ini terlihat sudah bergabung dengan para Badega (sebutan kami kepada warga kampung yang bertugas melayani tamu) mengobrol dan bercanda, dan malam itu kehangatan antar bangsa dan kekacauan bahasa menjadi penghibur kami semua.

Pagi sekali, Giacommo dan guide kami sudah menuju dinding tower 2 untuk mencoba jalur pemanjatan disana, namun sayang sekali cuaca sangat tidak mendukung, hujan turun dengan derasnya dan menghentikan langkah mereka untuk memanjat.
Kembali ke Bale Semah, Giaccomo bercerita akan mengajak sahabatnya di Singapura untuk kembali memanjat dinding tower 2, karena merasa penasaran.

Oleh-oleh dari Gunung Parang bersama Giacommo

Dua haripun terasa cepat, dan tiba saatnya kami harus berpisah dengan tamu kami yang ganteng ini. Kami merasa belum dapat memberikan yang terbaik, namun dengan santainya dia memberikan dukungan untuk terus berkembang dan mempertahankan keaslian alam disini, karena inilah kekayaan yang dimiliki Badega Gunung Parang.

Ciao…see you next trip friend!


Senin, 01 September 2014

Sebuah pelajaran dan pengalaman dari tamu mancanegara

Remaja Kampung Cihuni setelah berdiskusi dengan Ms. Anthene Grant dari US
Siapa sangka tamu kita kali ini adalah seorang General Manager dari sebuah resort terkenal di kepulauan Seribu, Mrs. Anthene Grant berkebangsaan Amerika Serikat.
Bersama beliau beberapa orang dari beragam negara juga ikut dalam rombongan dari "Ayo Ke Desa" yang dikomandani oleh Mas Anggun. 

Rombongan kecil ini sengaja datang untuk menghabisan waktu akhir pekan di Badega Gunung Parang yang ada di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Purwakarta.
Mulai dari jalan-jalan ke desa sampai dengan mendaki Gunung Parang yang eksotis.

Malamnya beberapa anak muda dari Kampung Cihuni bersama para Badega terlibat dalam diskusi kecil dan tukar pengalaman dengan tamu-tamu kami.
Topik yang dibahaspun beragam dari isu yang sederhana sampai dengan isu berat lainnya, tetapi yang menarik adalah pengalaman Mrs. Anthene Grant menangani sampah di pulau tempat resortnya berada, serta kreatifitas warga mengelola aktifitas penunjang untuk para tamu.

Dengan memberdayakan masyarakat sekitar melalui pendidikan yang diberikan kepada anak-anak usia dini, membuat mereka sadar tentang keberadaan sampah dan bagaimana mengelola bahkan mencegah polusi pencemaran disekitar pantai-pantai disana.
Di usia dini mereka telah sadar akan kebersihan dan lingkungan hidup, sebuah pendidikan yang sangat berharga untuk Badega Gunung Parang.

Disini kami berjibaku bagaimana menyadarkan warga tentang kebersihan dan menjaga lingkungan dari sampah.
Dan sejauh ini hasilnya memang belum sepenuhnya berhasil, karena untuk menumbuhkan kesadaran tentang kebersihan adalah sebagian daripada iman, adalah masih sulit dan bahkan sama sulitnya menumbuhkan pohon Jengkol di gurun sahara.

Bagaimanapun usaha kami dari Badega Gunung Parang tidak pernah berhenti disini, mengingat yang membangun dan mengelola wisata ini sepenuhnya adalah usaha komunitas warga, bukan para investor ataupun donatur.
Sehingga kami sadar bahwa berhasil atau tidaknya Badega Gunung Parang adalah tanggung jawab kami juga, dan sejengkalpun kami tidak menyerah begitu saja.

Pelajaran malam ini dari tamu-tamu kita tentang sampah dan kreatifitas sangat berharga sekali, dan menyadarkan kami untuk berbenah diri lebih baik lagi untuk masa depan.

Diskusi yang menyenangkan malam ini dengan ditemani secangkir kopi kayu manis yang hangat!

Rombongan "Ayo Ke Desa" melihat mata air Anaga





Rabu, 20 Agustus 2014

Menunggu kajian ilmiah di Gunung Parang

East Face of Mount Parang
Cerita dan tulisan tentang Gunung Parang sudah banyak beredar di internet ataupun media masa. Mulai dari tentang potensi panjat tebing, wisata alam, ataupun soal mistisnya.

Namun yang menulis tentang sejarah ataupun tentang formasi geologi gunung batu andesit ini, sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada sama sekali.

Entah itu tulisan atau kajian ilmiah, atau sekedar analisa sejarah, semua itu tidak ada sama sekali, atau mungkin hanya menumpuk di lemari arsip atau di laporan-laporan yang tidak dipublikasikan. 
Intinya, tidak ada referensi ilmiah berkaitan dengan Gunung Parang yang dapat dijadikan pijakan !

West Face of Mount Parang
Potensi tentang Gunung Parang sendiri sudah cukup terbukti sebagai wahana wisata alam yang sangat dahsyat.
Namun langkah-langkah pengembangannya sangat tertatih-tatih, karena pihak komunitas warga Badega Gunung Parang melakukannya dengan kekuatan sendiri dan belum ada bantuan dari pihak manapun.
Sangat menggemaskan sekali, seperti layaknya seorang putri cantik yang baru bangun tidur dan belum dipoles 'make up'.

Tower 1 & Tower 2, Mount Parang

Di Indonesia sendiri, gunung batu andesit cukup banyak bertebaran dari mulai Jawa, Kalimantan, Sumatera, sampai dengan Papua.
Namun untuk gunung batu andesit yang miliki keunikan dan formasi geologi yang dahsyat serta dekat dengan kota besar, mungkin hanya Gunung Parang.

Belum lagi ditambah beberapa situs-situs megalitikum masih menyisakan tanda tanya sekitar Gunung Parang, makin menambah pekerjaan rumah bagi siapa saja yang berminat terjun di Badega Gunung Parang untuk bergabung.

Tunggu apa lagi, ayo kita bekerja bersama-sama disini menyingkap misteri dan sejarah yang ada di Gunung Parang.


Minggu, 17 Agustus 2014

Berpetualang Keliling Gunung Parang Dengan Sepeda

Berkeliling Gunung Parang Dengan Sepeda (Photo by Adrianus K.W)
Ingin merasakan rute sepeda keliling Gunung Parang, datanglah ke Purwakarta. 

Disana anda dapat merasakan bagaimana rasanya tanjakan demi tanjakan dan tikungan patah saat turun menemani anda disana.

Anda bisa memulainya dari beberapa rute akses ke Badega Gunung Parang, bisa lewat Cilalawi, Simpang atau Ciakar. Untuk lebih detailnya peta rute ke Badega Gunung Parang bisa dilihat disini.

Semua rute akses memiliki karakter tanjakan dan turunan masing-masing, jalanan yang bergelombang ataupun halus akan banyak ditemui disini.


Rute Sepeda lewat Ciakar dan Simpang dengan pos istirahat di Badega Gunung Parang (By Adrianus KW)

Jika anda melewati rute Simpang atau Ciakar, kendaraan atau mobil anda bisa diparkir di Pasar Baru Citeko, disana anda bisa titip ke Satpam / Petugas Parkir untuk menjaga mobil atau kendaraan anda.


Ecekeble and Friends (Photo by Adrianus K.W)

Jika anda lewat Simpang, rute tanjakan yang akan dilalui melewati jalanan tanah yang sering dilalui truk proyek pengangkut batu, dan anda bisa beristirahat di lokasi Badega Gunung Parang.

Selanjutnya lepas dari lokasi Badega Gunung Parang, jalanan akan menurun dan berliku-liku melewati hutan karet dan pedesaan dengan rute jalanan yang cukup halus sampai akhirnya di Ciakar.

Anda bisa memilih start dengan rute tanjakan jalan tanah dan bergelombang, dan berakhir dengan turunan jalanan halus, atau sebaliknya. 

Terserah anda.


Temukan pemandangan spektakuler selama berada di lingkar Gunung Parang

Jika melewati Cilalawi, maka rute tanjakan / turunan akan melalui jalanan halus sampai anda menemui pertigaan turun lewat Ciakar atau turun lewat Simpang.




Melepas lelah dengan Nasi Liwet dan Kelapa Muda

Apapun rute yang anda pilih, jangan lupa untuk mampir menikmati kelapa muda dan nasi liwet di Badega Gunung Parang.

Dan nikmati alam Gunung Parang, seolah waktu akan berakhir hari ini !

Thanks for Visiting Us

Untuk informasi tentang rute, silahkan jangan ragu-ragu menghubungi kami di +62 8787 4708230