Kamis, 21 November 2013

Surganya Fotografer di Badega Gunung Parang

Sawah berumpak di Badega Gunung Parang

Sawah berumpak di Badega Gunung Parang
Mungkin beberapa fotografer masih banyak yang belum mengetahui bahwa banyak sekali spot fotografi di Badega Gunung Parang, Kampung Cihuni. Tanpa harus ke Bali kita sudah banyak mendapatkan foto-foto eksotis tentang sawah berumpak, hanya 3 jam dari Jakarta atau 2 jam dari Bandung. 

Masih banyak yang belum dieksplorasi untuk keindahan alam disini, dan tentunya menunggu anda yang 'gila' fotografi untuk datang kesini

Rabu, 20 November 2013

Kampung Cihuni resmi dijuluki BADEGA GUNUNG PARANG

Pada tanggal 11 November 2013, jam 12.30 siang, bertempat di Ruang Kerja Bapak Bupati Purwakarta, Bp. H. Dedi Mulyadi SH, Kelompok Swadaya Warga Kampung Cihuni yang diwakili oleh Bp. Umin Suhaya, Bp. Yunus, kang Jana, dan kang Wawan bertemu untuk beramah tamah dengan Bapak Bupati sekaligus ditasbihkan nama baru bagi tempat wisata serta nama kelompoknya menjadi "BADEGA GUNUNG PARANG".

Sungguh suatu kehormatan untuk kami ditasbihkan oleh Bp. Dedi Mulyadi, SH sebuah nama baru yaitu "BADEGA GUNUNG PARANG" yang memiliki makna sangat dalam dan luas yaitu "Penjaga yang terhormat dan menjadi benteng terakhir untuk Gunung Parang".

Secara harfiah, arti dari nama ini adalah bahwa kami diminta untuk menjaga dan mengawasi seluruh kelestarian alam dan lingkungan di kawasan sekitar Gunung Parang.
Sungguh berat, namun kami bangga dan yakin bahwa kami mampu mengemban misi dan tugas mulia ini.

Yang tadinya hanya sekedar obrolan di warung kopi dari mimpi kami yang terpendam, sampai dijuluki orang-orang 'gila', bertengkar dengan tetangga karena pekerjaan 'bale-bale' yang tidak kunjung selesai, sampai bertengkar dengan istripun pernah terjadi selama proyek kampung wisata ini.

Pada akhirnya, kami yakin, bahwa mimpi-mimpi kami menjadi kenyataan!

Dan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita punya niat disertai dengan kerja keras, maka apapun bisa terjadi.

Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. Dedi Mulyadi SH (Ki-Ka; Bp. Umin Suhaya, Bp. Dedi Mulyadi SH, Kang Jana, Bp. Yunus, dan Kang Wawan)


Liputan Koran Radar Karawang 4 November 2013

Liputan Koran Radar Karawang 4 November 2013

Sabtu, 09 November 2013

Kembalilah ke Kampung


Di Kampung Cihuni, kesederhanaan adalah keunikan kami. Disinilah kami hidup apa adanya ditengah kemegahan Gunung Parang, dan kerasnya alam jika musim kemarau tiba.
Belum lagi dengan serbuan deras arus budaya kota kepada anak-anak kami, yang mungkin sudah tidak bisa dibendung lagi karena pengaruh teknologi dan jaman.

Di satu sisi kami harus mempertahankan budaya dan adat sunda kami, tetapi di sisi lain kami harus bertarung idealisme dan budaya kota dengan anak-anak kami.
Sungguh ironis, jika kampung kami suatu ketika harus kehilangan identitasnya di masa depan.

Dari sinilah, kami bergerak dan berhimpun untuk menyatukan kata dengan para warga penggagas kampung wisata untuk memulai sesuatu yang memiliki makna dan tujuan demi masa depan anak-anak kami nantinya.

Tanpa harus dilihat kekurangan dan kelebihannya, kami hanya berniat untuk melestarikan adat dan budaya serta alam di kaki Gunung Parang, yang kelak akan kami wariskan kepada anak cucu kami.

Kalau bukan sekarang, kapan kami harus kembali pulang ke Kampung!






Buah KECAPI yang selalu ada di Kampung Cihuni




Sudah jarang kita temui buah KECAPI (
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.) di beberapa pasar tradisional ataupun modern sekalipun. Kalaupun ada, buah ini jarang dilirik oleh pembeli, entah mengapa?
Jadi jangan heran, kalau buah KECAPI sudah dianggap buah langka oleh sebagaian orang di kota-kota besar.

Padahal dari pohon dan buahnya memiliki beragam khasiat penyembuhan, dari mulai deman, perut kembung, penguat tubuh wanita setelah melahirkan, dan  obat cacingan.

Jadi jangan remehkan buah KECAPI, karena dari alam sebenarnya semua tersedia untuk menyembuhkan beragam penyakit di tubuh manusia.

Jika berjalan-jalan di Kampung Cihuni, jangan lupakan untuk mencicipi buah KECAPI, dan jika musimnya tiba, jangan ragu-ragu untuk membawanya pulang, kalau perlu sekarung sekalipun.




Minggu, 03 November 2013

Lupakan menjadi orang KOTA, mari menjadi orang KAMPUNG !


Jika anda pergi ke Purwakarta, sempatkan untuk berkunjung ke Kampung Cihuni, hanya 15 km dari pusat kota.

Anda akan diajak untuk melupakan sejenak kepenatan ritme kehidupan di kota besar, dan waktupun berhenti berputar sejenak disini.

Lupakan basa basi orang kota, mari kita menjadi orang kampung sejenak dan belajarlah ketulusan dan kearifan di Kampung Cihuni.



Sabtu, 02 November 2013

Penginapan kelas resort, harga Backpacker


Untuk menginap di Kampung Cihuni tersedia beberapa Bale Tilem, yang dapat digunakan oleh para tamu yang ingin menghabiskan waktunya disini.
Pemandangan yang langsung menyatu dengan Gunung Parang, membuat Bale Tilem seperti sebuah resort kelas mahal, padahal sejatinya ini diperuntukkan untuk para Backpacker.

Jumat, 01 November 2013

Beragam kerajinan dan kulinari tersedia di Kampung Cihuni

 







Kearifan budaya kampung


Di kampung Cihuni, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan dari Jakarta, ternyata kita dapat menjumpai kearifan yang sulit ditemui di kota besar, atau bahkan di kota kecil sekalipun. Disini kita dapat belajar bagaimana menghormati para lelulur.

Salah satu contoh, adalah Kang Soun, dia adalah penduduk asli disini dan kemudian mengadu peruntungan menjadi mandor proyek yang sukses di Jakarta, dan entah kenapa,kemudian beliau kembali lagi ke kampung dan mengawali lagi kehidupannya dengan merawat 'petilasan-petilasan' para leluhur yang banyak bertebaran di kaki Gunung Parang hingga kini.

Awalnya, dia di cap oleh warga sebagai 'orang gila' karena merawat batu-batu berserakan yang tidak jelas dan hanya buang-buang waktu. Tapi lambat laun, wargapun menaruh hormat kepadanya karena dia menemukan beberapa situs megalitikum dan mampu merawatnya hingga kini, hanya seorang diri.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga disini, jangan pernah menganggap remeh seseorang, karena dia mampu merubah dunia!