Selasa, 24 Desember 2013

Festival Rakyat Badega Gunung Parang 2013

Festival Rakyat BADEGA GUNUNG PARANG
Festival Rakyat Badega Gunung Parang, yang baru pertama kali di gelar di Gunung Parang, akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2013 sampai dengan 1 Januari 2014.

Bertempat di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Silahkan lihat peta dan arah disini


Acara ini sendiri akan diisi oleh beragam acara antara lain;
> Pasar Jajanan Tradisional
> Workshop Budaya dan Seni Sunda
> Seni Ketimpring
> Seni Karinding
> Seni Pencak Silat
> Dan seni Sunda lainnya

Selain itu akan ada WORKSHOP SENI KARINDING yang terbuka untuk umum dari tanggal 1 s/d 5 Januari 2014 dengan biaya hanya Rp. 10,000 / orang, anda dapat belajar dengan para seniman karinding KASUNDA.

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi: 087874708230 atau 081310095047


Kamis, 19 Desember 2013

Pertama kali Pesta Rakyat di Gunung Parang


Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH mengunjungi tempat wisata Badega Gunung Parang
Para tamu menikmati suguhan khas kampung Cihuni, Nasi Liwet 
Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, menandatangani kelotok kerbau sebagai maskot BADEGA GUNUNG PARANG

Kelotok kerbau yang telah ditandatangani dikalungkan kepada Kang Wawan Lukman Hidayat, sebagai Ketua BADEGA GUNUNG PARANG

Karinding Bambu yang dimainkan oleh KASUNDA, menambah gemuruhnya suasana di kaki gunung Parang

Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, sekarang dan selamanya semua melebur menjadi Badega Gunung parang


KASUNDA on stage bersama kerbau di latar belakang

Kursus singkat Karinding bersama KASUNDA

Masyarakat Kampung Cihuni berpesta

Bapak Camat Tegalwaru, bergembira bersama

Generasi penerus Kampung Cihuni

Kelak mereka yang akan mewarisi BADEGA GUNUNG PARANG

Pertama kali dalam sejarah Gunung Parang, terjadi pesta Rakyat yang diadakan di Kampung Cihuni.

Pesta Rakyat yang diadakan oleh Badega Gunung Parang adalah awal dari revitaliasi budaya Sunda yang ada di wilayah Gunung Parang.
Bekerja sama dengan komunitas karinding sunda (KASUNDA) dari Rancaekek, Bandung, pimpinan Asep Hendra, secara sporadis memaikan karinding di tengah keheningan Gunung Parang yang megah, dan membawa para penonton ke imajinasi purba di kala Gunung Parang Parang masih dibawah kerajaan Pajajaran.

Kelak pesta ini akan diadakan setahun sekali dan merupakan event tahunan yang akan digelar di kaki Gunung Parang.

Cek foto lengkapnya di http://facebook.com/kampungcihuni



Ikuti BADEGA GUNUNG PARANG di Facebook dan Twitter !


Jika anda memiliki akun di Facebook, silahkan bergabung dengan kami di akun resmi BADEGA GUNUNG PARANG di FACEBOOK 

Atau anda memiliki akun di Twitter, silahkan ikuti kami di akun resmi BADEGA GUNUNG PARANG di TWITTER

Selasa, 17 Desember 2013

Badega Gunung Parang diresmikan oleh Bupati Purwakarta Bp. H Dedi Mulyadi SH

Foto Bersama dengan Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, 17 Desember 2013
Tepat jam 11.30, di lokasi wisata kampung dan petualangan, BADEGA GUNUNG PARANG, yang terletak tepat di kaki Gunung Parang, Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, secara simbolis dalam upacara adat yang sederhana, Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH meresmikan kampung wisata ini dengan menandatangani kelotok kerbau dan mengalungkannya di leher ketua Badega Kang Wawan Lukman Hidayat.

Upacara adat yang disaksikan oleh beberapa undangan yang hadir diantaranya para pejabat  dan staf Pemda Purwakarta, Camat Tegal Waru beserta staff Muspika lainnya, dan sesepuh serta warga kampung Cihuni sekitarnya. 

Dalam Upacara Peresmian ini, Bapak Bupati juga memberikan bantuan Dana Pengembangan wisata BADEGA GUNUNG PARANG sebesar Rp. 300 juta, yang nantinya akan digunakan oleh BADEGA GUNUNG PARANG sebagai modal untuk pengembangan dan konservasi budaya  serta lingkungan di wilayah Gunung Parang sekitarnya.

Pembangunan wisata BADEGA GUNUNG PARANG sendiri adalah murni swadaya dari masyarakat Kampung Cihuni tanpa bantuan dari pihak manapun, karena proyek ini awalnya adalah mimpi dan sempat dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak.

Namun kini, wisata BADEGA GUNUNG PARANG siap untuk tampil dan membawa Purwakarta dan Jawa Barat ke kancah pariwisata Nasional dan Internasional selangkah demi selangkah dengan membawa keunikannya sendiri.




Senin, 16 Desember 2013

Peresmian BADEGA GUNUNG PARANG oleh Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH

Insyaallah,

Besok Selasa 17/12/2013 adalah peresmian Badega Gunung Parang di Kampung Cihuni, jam 09.00 Pagi oleh Bapak Bupati Purwakarta , Bp. H Dedi Mulyadi, SH Mohon doa dan dukungan dari rekan, sahabat, komunitas, sesepuh, orang tua, anak, adik, kakak agar mimpi-mimpi kami sebagai orang kampung Cihuni menjadi nyata dan membuktikan bahwa jangan pernah takut bermimpi dan jangan pernah berhenti untuk mempercayai sesuatu yang sudah menjadi niat dan tekat,

Rock On!

Minggu, 15 Desember 2013

Lupakan basa-basi ala hotel atau resort di Badega Gunung Parang!

Bale Ngaso di Badega Gunung Parang
Jika ke Purwakarta, maka sempatkanlah main ke Badega Gunung Parang, sebuah tempat eksotis di kaki Gunung Parang, tepatnya di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.
Sekitar 18 km dari pusat kota Purwakarta, atau 3 jam dari Jakarta.

Disini anda dapat menemui sebuah keunikan wisata alam dan petualangan untuk berbagai umur, mulai panjat tebing, trekking ke hutan dan gunung, menjelajah kampung, bermain di sawah dengan kerbau, atau mungkin hanya sekedar beristirahat minum kopi dan makan pisang goreng sambil memandang dinding Gunung Parang yang menjulang ke langit.

Lupakan basa-basi ala hotel atau resort, disini anda tidak akan menemui hal itu.
Anda akan menjumpai keramahan ala kampung, bahkan kampungan sekali serta ala kadarnya, jadi anggaplah anda pulang kampung ke rumah kakek atau nenek.

Nah selamat berpetualang !


Selasa, 03 Desember 2013

Wilujeng Sumping di Kampung Cihuni


Saatnya kami menyambut anda ditengah kehangatan warga Kampung Cihuni dan alamnya...

Kelotok yang unik

Kelotok
"Kelotok" di bahasa sunda, "Kelontong" di bahasa jawa, sama artinya sebagai penanda kepemilikan dari seekor sapi, kerbau, atau binatang ternak lainnya. 

Awalnya, Kelotok digunakan oleh para penggembala atau pemilik ternak sebagai penanda agar ternaknya tidak hilang dan mudah dikenali jika digembalakan.

Dan sampai saat ini, kelotok sudah jarang digunakan oleh para penggembala atau pemilik ternak, sehingga sudah sulit ditemukan di kampung atau desa.

Namun di Kampung Cihuni, kelotok adalah cindera mata yang unik untuk anda dan menandakan bahwa anda pernah berpetualan di Badega Gunung Parang


Bale Ngaso di Badega Gunung Parang

Bale Ngaso di Badega Gunung Parang
Tersedia Bale Ngaso sebanyak 5 unit untuk kapasitas 5-6 orang di Badega Gunung Parang, bagi mereka yang ingin merasakan sensasi menginap di alam bebas di kaki Dinding Gunung Parang.

Disini anda bisa berinteraksi secara langsung dengan alam diantaranya melihat elang jawa beterbangan di atas, bermain dengan kerbau, belajar panjat tebing, atau mungkin mandi matahari. 

Percayalah, disini waktu akan serasa berhenti.

Kamis, 21 November 2013

Surganya Fotografer di Badega Gunung Parang

Sawah berumpak di Badega Gunung Parang

Sawah berumpak di Badega Gunung Parang
Mungkin beberapa fotografer masih banyak yang belum mengetahui bahwa banyak sekali spot fotografi di Badega Gunung Parang, Kampung Cihuni. Tanpa harus ke Bali kita sudah banyak mendapatkan foto-foto eksotis tentang sawah berumpak, hanya 3 jam dari Jakarta atau 2 jam dari Bandung. 

Masih banyak yang belum dieksplorasi untuk keindahan alam disini, dan tentunya menunggu anda yang 'gila' fotografi untuk datang kesini

Rabu, 20 November 2013

Kampung Cihuni resmi dijuluki BADEGA GUNUNG PARANG

Pada tanggal 11 November 2013, jam 12.30 siang, bertempat di Ruang Kerja Bapak Bupati Purwakarta, Bp. H. Dedi Mulyadi SH, Kelompok Swadaya Warga Kampung Cihuni yang diwakili oleh Bp. Umin Suhaya, Bp. Yunus, kang Jana, dan kang Wawan bertemu untuk beramah tamah dengan Bapak Bupati sekaligus ditasbihkan nama baru bagi tempat wisata serta nama kelompoknya menjadi "BADEGA GUNUNG PARANG".

Sungguh suatu kehormatan untuk kami ditasbihkan oleh Bp. Dedi Mulyadi, SH sebuah nama baru yaitu "BADEGA GUNUNG PARANG" yang memiliki makna sangat dalam dan luas yaitu "Penjaga yang terhormat dan menjadi benteng terakhir untuk Gunung Parang".

Secara harfiah, arti dari nama ini adalah bahwa kami diminta untuk menjaga dan mengawasi seluruh kelestarian alam dan lingkungan di kawasan sekitar Gunung Parang.
Sungguh berat, namun kami bangga dan yakin bahwa kami mampu mengemban misi dan tugas mulia ini.

Yang tadinya hanya sekedar obrolan di warung kopi dari mimpi kami yang terpendam, sampai dijuluki orang-orang 'gila', bertengkar dengan tetangga karena pekerjaan 'bale-bale' yang tidak kunjung selesai, sampai bertengkar dengan istripun pernah terjadi selama proyek kampung wisata ini.

Pada akhirnya, kami yakin, bahwa mimpi-mimpi kami menjadi kenyataan!

Dan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita punya niat disertai dengan kerja keras, maka apapun bisa terjadi.

Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. Dedi Mulyadi SH (Ki-Ka; Bp. Umin Suhaya, Bp. Dedi Mulyadi SH, Kang Jana, Bp. Yunus, dan Kang Wawan)


Liputan Koran Radar Karawang 4 November 2013

Liputan Koran Radar Karawang 4 November 2013

Sabtu, 09 November 2013

Kembalilah ke Kampung


Di Kampung Cihuni, kesederhanaan adalah keunikan kami. Disinilah kami hidup apa adanya ditengah kemegahan Gunung Parang, dan kerasnya alam jika musim kemarau tiba.
Belum lagi dengan serbuan deras arus budaya kota kepada anak-anak kami, yang mungkin sudah tidak bisa dibendung lagi karena pengaruh teknologi dan jaman.

Di satu sisi kami harus mempertahankan budaya dan adat sunda kami, tetapi di sisi lain kami harus bertarung idealisme dan budaya kota dengan anak-anak kami.
Sungguh ironis, jika kampung kami suatu ketika harus kehilangan identitasnya di masa depan.

Dari sinilah, kami bergerak dan berhimpun untuk menyatukan kata dengan para warga penggagas kampung wisata untuk memulai sesuatu yang memiliki makna dan tujuan demi masa depan anak-anak kami nantinya.

Tanpa harus dilihat kekurangan dan kelebihannya, kami hanya berniat untuk melestarikan adat dan budaya serta alam di kaki Gunung Parang, yang kelak akan kami wariskan kepada anak cucu kami.

Kalau bukan sekarang, kapan kami harus kembali pulang ke Kampung!






Buah KECAPI yang selalu ada di Kampung Cihuni




Sudah jarang kita temui buah KECAPI (
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.) di beberapa pasar tradisional ataupun modern sekalipun. Kalaupun ada, buah ini jarang dilirik oleh pembeli, entah mengapa?
Jadi jangan heran, kalau buah KECAPI sudah dianggap buah langka oleh sebagaian orang di kota-kota besar.

Padahal dari pohon dan buahnya memiliki beragam khasiat penyembuhan, dari mulai deman, perut kembung, penguat tubuh wanita setelah melahirkan, dan  obat cacingan.

Jadi jangan remehkan buah KECAPI, karena dari alam sebenarnya semua tersedia untuk menyembuhkan beragam penyakit di tubuh manusia.

Jika berjalan-jalan di Kampung Cihuni, jangan lupakan untuk mencicipi buah KECAPI, dan jika musimnya tiba, jangan ragu-ragu untuk membawanya pulang, kalau perlu sekarung sekalipun.




Minggu, 03 November 2013

Lupakan menjadi orang KOTA, mari menjadi orang KAMPUNG !


Jika anda pergi ke Purwakarta, sempatkan untuk berkunjung ke Kampung Cihuni, hanya 15 km dari pusat kota.

Anda akan diajak untuk melupakan sejenak kepenatan ritme kehidupan di kota besar, dan waktupun berhenti berputar sejenak disini.

Lupakan basa basi orang kota, mari kita menjadi orang kampung sejenak dan belajarlah ketulusan dan kearifan di Kampung Cihuni.



Sabtu, 02 November 2013

Penginapan kelas resort, harga Backpacker


Untuk menginap di Kampung Cihuni tersedia beberapa Bale Tilem, yang dapat digunakan oleh para tamu yang ingin menghabiskan waktunya disini.
Pemandangan yang langsung menyatu dengan Gunung Parang, membuat Bale Tilem seperti sebuah resort kelas mahal, padahal sejatinya ini diperuntukkan untuk para Backpacker.

Jumat, 01 November 2013

Beragam kerajinan dan kulinari tersedia di Kampung Cihuni

 







Kearifan budaya kampung


Di kampung Cihuni, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan dari Jakarta, ternyata kita dapat menjumpai kearifan yang sulit ditemui di kota besar, atau bahkan di kota kecil sekalipun. Disini kita dapat belajar bagaimana menghormati para lelulur.

Salah satu contoh, adalah Kang Soun, dia adalah penduduk asli disini dan kemudian mengadu peruntungan menjadi mandor proyek yang sukses di Jakarta, dan entah kenapa,kemudian beliau kembali lagi ke kampung dan mengawali lagi kehidupannya dengan merawat 'petilasan-petilasan' para leluhur yang banyak bertebaran di kaki Gunung Parang hingga kini.

Awalnya, dia di cap oleh warga sebagai 'orang gila' karena merawat batu-batu berserakan yang tidak jelas dan hanya buang-buang waktu. Tapi lambat laun, wargapun menaruh hormat kepadanya karena dia menemukan beberapa situs megalitikum dan mampu merawatnya hingga kini, hanya seorang diri.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga disini, jangan pernah menganggap remeh seseorang, karena dia mampu merubah dunia!

Rabu, 30 Oktober 2013

Wilujeng Sumping di Kampung Cihuni


Saatnya kami menyambut anda ditengah kehangatan warga Kampung Cihuni dan alamnya...

Kirai yang membawa berkah


Ibu Entin yang mungkin sepanjang hidupnya membuat Atap Kirai, produk alami untuk atap yang terbuat dari daun pohon kirai yang tumbuh di pinggir sungai, adalah sebuah contoh kearifan lokal warga kami.
Tanpa mengeluh tentang kondisi ekonomi, beliau bertahan dari beragam kondisi yang hadir sepanjang masa.

Mari belajar dari Ibu Entin....